Menulis itu gampang-gampang susah

Menulis itu gampang-gampang susah, gampang kalo inspirasi lagi ngalir, susah kalo inspirasi gak bisa istiqomah, lama-lama males dah,,,. Setelah kemaren bikin tulisan tentang “Alasan Kenapa Menjadi Seorang Penulis ?” sebagai azzam untuk semangat nulis lagi tapi karena dilanda berbagai penyakit males dan kurang gairah, (sok) sibuk dll akhirnya vakumlah blog ini dari update posting-posting bahkan sekedar untuk bales komen.

Beberapa tips untuk penulis pemula:

  1. Tulislah tulisanmu dengan gayamu sendiri

Terserah kamu, mau bahasanya formal, gaul atau semi formal yang penting paling nyaman dan enak dengan dirimu

NB: Asal jangan terlalu norak, lebai, alay dll

  1. Banyaklah membaca

Bacalah untuk menambah wawasanmu, bacalah teknik / gaya tulisan yang baik itu seperti apa dan pelajari

  1. Istiqomah

Nah,,, ini nih yang paling sulit (bagi penulis sendiri). Pokoknya kalau sudah bisa yang satu ini, insya Allah bakalan sukses.

  1. Apa tujuanmu menulis?

Sekedar berbagi info, pengetahuan, dapat uang, dakwah, iseng atau emang cuma asal nulis? Tujuanmu menulis inilah yang akan jadi ruh-tulisanmu.

Satu tips penting tentang menulis buat para penulis (jurnalis, wartawan, bloger dll)

Ibarat perkataan, Tulisan juga bisa diumpamakan seperti pedang bermata dua, jika baik penggunannya, baik juga hasilnya. Tapi jika buruk penggunaannya akan berakibat buruk juga akhirnya. Maksudnya tulisanmu bisa jadi amal jariah yang pahalanya ngalir terus walaupun anda telah meninggal dunia, tapi juga bisa jadi dosa jariah yang dosanya tetap mengalir walaupun anda telah meninggal dunia.

Menulislah tapi tetap berhati-hati, jangan terjebak dengan jargon “kebebasan Pers” maupun “kebebasan berekspresi” dll. Semua harus sesuai koridornya, dan ingat!!! semua akan dipertanggung jawabkan dihadapanNYA

Semoga penulis bisa istiqomah dalam menulis tulisan yang bermanfaat.

 

Alasan Kenapa Menjadi Seorang Penulis ?

Sejenak harus merenung tentang diri sendiri, mereview ingatan masa lalu. Seberkas ingatan tentang teman-temanku tiba-tiba berkelebat. Menggelitik obsesi lama yang sempat redup. Redup,,,, bukan padam.

Beberapa menit yang lalu saat browsing di internet secara tidak sengaja kutemukan blog temanku saat masih kuliah dulu. Teman beda jurusan tapi satu fakultas. Aku tidak begitu mengenalnya, tapi satu yang kuingat kalau tidak salah dia pernah bertanya tentang “bagaimana membuat blog yang bagus itu?”. Tapi sekarang, kalian tahu apa yang terjadi?, blognya cukup ramai pengunjung, bahkan daripada punyaku mungkin. Blognya selalu di update.

Satu yang membuatku simpati adalah ternyata dia seorang penulis juga. Entah penulis besar atau kecil yang penting dia bisa menulis, menulis tulisan yang bermanfaat tentunya. Apalagi bukan karena tujuan komersil (uang dan ketenaran), ditambah lagi kalau berbobot, bermanfaat dan menginspirasi….. WAH,,, jadi bangga sekaligus iri aku.

Aku sangat menghargai penulis yang seperti itu. Aku juga bisa menulis (gaya bebas tapi), tapi entah kenapa semangat itu jadi redup, alhamdulillah tidak padam. Karena aktifitas menulisku sebagian kualihkan dari digital based menjadi konvensional based. Dari yang semula nulis di komputer kemudian di posting di blog/FB menjadi via kertas dan pulpen (lha kok malah jadi downgrade ? à biarinn,,, !, ada alasan tertentu kawan).

Aku ingin tetap menulis walau apapun yang terjadi ! Kenapa?

1. Dengan tulisan, bisa menjadi salah satu amal jariyah kita?

Amal Jariyah?, ya bisa saja, asal tulisan itu berupa ilmu, bermanfaat (dilihat dari sudut pandang syar’i tentu saja) kemudian di publikasikan dan dibaca orang secara kontinyu / terus menerus, bukankah itu adalah salah satu dari 3 amal jariyah yang diterangkan dalam hadist ? yaitu “ilmu yang bermanfaat” yang pahalanya tiada putus-putus.

2. Bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kalau ada seseorang yang tergugah / termotivasi / tersadar karena tulisan kita, tentu kita juga ikut senang. Alhamdulillah Allah ‘Azza Wajalla telah menjadikan kita sebagai perantara dalam pertolongan Allah kepada hambaNYA. Walaupun itu hanya satu orang.

3. Sebagai rekam jejak sejarah kehidupan kita.

Kawan,,, belum tentu suatu saat nanti kita akan menjadi orang-orang yang bertitle “VVIP” (Very Very Important People), atau “The Number One Man” ataupun juga “The Most Influential People in The World” dalam episode sejarah dunia ini. Jadi tidak akan ada yang sudi menuliskan sejarah biografi hidup kita. Kalau bukan diri kita sendiri yang menulis, siapa lagi?

Apa yang terjadi setelah 1 atau 2 dasawarsa setelah kita meninggal nanti? Kita akan hilang ditelan sejarah !. Bahkan anak, cucu atau cicit kita nanti belum tentu tahu siapa kita?

Bukankah kisah perjuangan Kartini menjadi diketahui dan terkenal sbg Pejuang hak-hak wanita karena jejak sejarah beliau berupa tulisan surat-menyuratnya. Bukan dengan kampanye ataupun piagam penghargaan.

Dengan foto ? mungkin akan tahu seperti apa wajah / fisik kita,

Dengan kumpulan berbagai piala ataupun piagam penghargaan? Mungkin mereka akan tahu betapa berprestasinya kita,

Tapi dengan tulisan, kita bisa menggambarkan bagaimana diri kita, pola pikir kita, karakter kita, kepribadian kita, hobi kita juga perjuangan kita dalam meraih setiap prestasi dalam hidup kita. Orang akan belajar sesuatu yang bermanfaat dari pengalaman kita. Insya Allahu Ta’ala.

Tak perlu menjadi seperti William Shakespeare atau J.K Rowling ataupun Habiburahman El Sirazy yang karya-karyanya bisa dibaca jutaan orang. Mulailah dari awal, cukuplah dan tetaplah menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dengan gayamu sendiri. Insya Allah akan ada yang bisa membaca dan mengambil manfaat darimu.

Nunn… Wal Qolami wamaayasturuun (Nunn… Demi Pena, dan apa yang mereka tulis) Q.S Al Qalam 1

 Di tulis ulang oleh Saibani Kurniajati

tanggal 30 Oktober 2012, 22.50 WIB

from my “blue book” ^^