Anakmu, Anakku, Anak Kita di Masa Depan

Saat itu, di ruang tamu sebuah sekolah SMA terjadi sedikit keributan antara guru, siswa dan orang tua dari siswa tersebut.

“Pokoknya gak mau bu !” Teriak siswa tersebut kepada ibunya.

“Tapi nak, ibu sudah janji mau balikin motor itu ke yang punya” jawab si ibu dengan suara lirih.

Sang guru yang mencoba menengahi pertengkaran antara ibu dan anak itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengelus dada.

Karena sudah sangat menginginkan sepeda motor terpaksa sang ibu rela mencari pinjaman karena apa daya tak sanggup untuk membelikannya, sang suami telah lama tiada. Demi agar anaknya mau berangkat sekolah.

“Nak, ibu dulu sekolah jalan kaki beberapa kilo meter, ibu harap kamu juga mau bersabar sampai ibu punya cukup uang untuk membelikanmu sepeda motor ” kata sang ibu memelas, “Ibu sudah janji sama tetangga mau balikin motornya hari ini”

“Ahhh bodo amat bu,,,, itu tahun berapa bu?! Sekarang tahun 2012 bu !” Balas sang anak dengan nada tinggi. “Pokoknya mau ibu nangis-nangis kek, mau minta sampai nangis darah kek,,, aku gak peduli !”

Akhirnya pertengkaran antara ibu dan anak itu menemui jalan buntu. Sang ibu keluar sambil menggendong anak keduanya yang masih balita.

Beberapa nasehat bijak maupun peringatan keras dari pak guru tampaknya tak membuat siswa tersebut untuk sedikitpun mengalah kepada ibunya. Setelah beberapa kali nasehatnya mentah didepan siswa yang keras kepala tersebut, terlihat matanya berkaca-kaca. Marah, jengkel sekaligus kasihan dengan keluarga siswa tersebut.

Masih di sekolah yang sama , terlihat sedikit kerepotan dipagi hari menjelang KBM di sekolah. Seorang pegawai sekolah terlihat kerepotan membawakan air dan sedikit hidangan kepada tamu sekolah yang berasal dari Dinas setempat saat itu.

“Sini Pak, masak bapak yang anterin sendiri ”

Sahut seorang siswa menawarkan bantuan saat melihat pegawai sekolah itu kerepotan seorang diri melayani tamu. Ia dengan senang hati menawarkan bantuan untuk mengantarkan jamuan kepada tamu agar pegawai tersebut tidak terlalu kerepotan.

Siswa tersebut memang terkenal ramah dan suka menolong diantara rekan-rekannya. Selain itu ia juga merupakan anak yang cerdas dan pernah juara kelas disekolah sebelumnya. Sopan dan santun kepada guru juga jadi kebiasaannya. Di masjidpun ia biasa terlihat di shaf pertama sedang menunggu iqomat sambil membaca al qur’an bersama teman-temannya yang lain.

Itulah sekelumit dinamika perilaku anak yang bisa terjadi dimasyarakat kita. Anak yang taat dan patuh biasa kita sebut dengan “anak berbakti” sedangkan anak yang cenderung pemberontak, berani, tidak sopan dan santun kepada orang tua biasa kita sebut sebagai “anak durhaka”.

Kita sebagai orang tua tentu mengharap anak yang berbakti seperti kisah kedua diatas. Namun apakah usaha anda untuk mewujudkannya? Seakan-akan anak sholeh / sholihah adalah do’a klise yang menjadi standar menyambut kelahiran buah hati bagi kaum muslimin di negeri ini.

“Selamat yaa, Semoga kelak jadi anak yang sholeh / sholihah” begitulah do’a yang otomatis diucapkan saat mendapat kabar kelahiran sang buah hati. Tanpa bermaksud menyalahkan do’a tersebut, namun sadarkah kita para orang tua bahwa usaha kearah sana tentu tidak semudah mengucapkannya.

Untuk itulah mari kita lengkapi semangat kita sebagai orang tua dengan landasan ilmu, ilmu tentang bagaimana cara mendidik anak itu? seperti apakah Rasulullah mendidik anak? Seperti apa standar “anak sholih” itu sebenarnya?

Kemudian dengan ilmu itu bisa jadi landasan kita beramal, agar “anak sholih” yang kita maksud benar-benar sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Assunnah yang shohihah. Bukan sekedar “sholih” dimulut saja.

Terakhir, sudahkah kita mendo’akannya? Setiap hari?, disepertiga malam terakhir? atau mungkin dikala sempat saja? Do’akanlah anak kita sesering mungkin, kita tidak tau bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Berjalan sesuai koridor Allah Ta’ala atau justru sebaliknya. Do’akanlah ia karena do’a orang tua kepada anaknya ibarat do’a Nabi kepada Umatnya.

Sekali-kali pandanglah wajah anakmu ketika sedang tertidur lelap. Wajah yang masih lugu dan polos itu akan segera terpapar gemerlapnya dunia dalam rentang pertumbuhannya. Jika kita tidak siap membekalinya, ia akan menjelma menjadi pemburu dunia yang buas bahkan bisa jadi lebih buas dari serigala yang kelaparan, atau jika kita sebagai orang tua sudah membekalinya dengan “ilmu” Insya Allah, ia akan bijak menempatkan dunia ini sesuai posisi dan porsinya. Tidak melanggar halal dan haram yang telah diatur sang Penciptanya.

 

(Untukku dan istriku yang baru saja menjadi ayah dan ibu)

Iklan

Sepenggal Kisah Tentang Kakek yang Sederhana

Dulu waktu masih kecil, sejak usia Taman Kanak-kanak hingga SD kelas 1 sampai kelas 6, beliau yang mengantar dan menemaniku pergi ke sekolah. Maklum,,, baru awal-awal sekolah dan mengingat aku dan kakakku masih kecil waktu itu, bapak dan ibu masih kerja sedangkan adikku yg masih balita, beliaulah yang menjaganya, Kakek dan nenek.

SD-ku tepat berada di samping sawah kakek, tepat mengelilingi komplek SD N Karanganyar III di sebelah utara dan baratnya. Jadi ketika aku dan kakak belajar di SD impress itu, kakek asyik menjalankan pekerjaan utamanya sebagai seorang petani. Kadang disaat libur sekolah, kami semua membantu beliau disawah. Kegiatan yg paling kami sukai adalah ‘ndaud yaitu memindahkan benih padi yg baru tumbuh ke areal sawah untuk ditanam secara rapi. Kami senang karena bisa sekalian main air + lumpur 😀

Kakek dan nenek juga piawai membuat batu-bata dan berladang yang dilakukan di lahan kosong di tepian sungai yang disebut sebagai “dong Bulak” oleh warga kampung kami, letaknya di perbatasan timur kampung. Lebih dari itu, kakek juga mahir membuat meubel, seperti meja, kursi dan almari. Jadi tak hanya bertani saja, kakekku juga pandai bertukang dan berladang. Seorang pekerja keras.

Semenjak ibuku sakit keras, kakek dan nenek paling sering mampir kerumah, entah mengantar nasi dan lauk pauk sampai menemani tidur dirumah sampai larut malam. Maklum bapak harus bolak balik Sragen Solo menemani ibu yang dirawat dirumah sakit. Kadangkala untuk menghibur kami bertiga (aku, adikku faisal dan kakaku saiful), kakek menyenandungkan syair dalam bahasa jawa krama alus yang artinyapun aku tak tahu sama-sekali, kecuali beberapa potong saja, yahhh lumayanlah sebagai pengantar tidur.

Pun setelah ibu meninggal dunia, kakek tetap sering mampir kerumah, bantu-bantu bersih-bersih rumah, halaman sampai kebun samping rumah. Kadang-kadang juga beliau membawakan kami hasil ladangnya, kadang pisang, jambu, kacang dll.

Sebel,,, kesal, jengkel kadang juga sempat kurasakan pada kakek. Aku jengkel ketika beliau makan dirumah, bukan makannya yang kupermasalahkan, tapi setelah makan itu, beliau asal-asalan mencuci piringnya, tidak pakai sabun cuci, padahal sudah kularang mencuci sendiri. Maklumlah dirumah itu, aku yang diberi tanggung jawab untuk mencuci piring dan peralatan dapur lainnya. Aku kesal ketika beliau memotong pohon jambu depan rumahnya karena di pohon itulah banyak menghasilkan buah yang aku dan teman-temanku biasa bermain dibawahnya. Aku marah kadang-kadang beliau mengganggu keasyikanku bermain dll.

Akhirnya waktu semakin berlalu, tak terasa belasan tahun sudah peristiwa itu terjadi. Aku yang kini semakin dewasa insya Allah semakin paham dan mengerti. Beliau bukanlah orang kaya raya dikampung, beliau bukan juga petani sukses dengan sawah dan ladang berhektar-hektar, beliau bukanlah terkenal sebagai pejabat desa atau tetua kampung, bukan pula veteran perang yang dipanggil saat upacara 17an, walaupun beliau juga pernah ikut membantu perang kemerdekaan kala itu. Tapi dibalik itu semua, ada hikmah yang bisa kupetik dari beliau, kerja keras, kesederhanaan dan kesahajaan itulah yang terpancar dari beliau.

“Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” [al Hajj/22:5]

Kakekku termasuk ia yang dipanjangkan umurnya oleh Allah ‘azza wajalla, kurang lebih umurnya saat ini lebih dari 90 tahun. Dengan umur seperti itu, kakek mulai pikun, kurang lebih sejak 4 – 5 tahun yang lalu. Karena kebiasaannya sejak muda, beliau masih ingin bertani, ya, ditengah usianya yang telah udzur itu, beliau masih ingin berkarya, tidak ingin merepotkan anak-anak dan cucunya. Walaupun untuk berangkat kesawah saja beliau sudah lupa jalannya. Dengan sepeda ontel tua, caping, cangkul dan sabit beliau tenteng terus menerus mencari sawahnya. Pernah suatu ketika beliau melihat sawah-sawah tetangga sudah memasuki musim panen, kemudian beliau memintaku untuk membantunya memanen padi, hampir aku berangkat kesawah sebelum bapakku memberitahuku bahwa sawah kakek tidak ditanami padi karena sudah tidak ada yang mengurus. Setelah kujelaskan beliau hanya diam sambil menganguk-anggukkan kepalanya, besoknya ia meminta lagi hal yang serupa.

Sering juga beliau datang kerumah untuk pamitan, beliau membawa seluruh pakaian dan beberapa bekal yang dibungkus kain sarungnya, lengkap dengan caping dan sabitnya. Ketika ditanya, mau kemana? Beliau menjawab “mau pulang ke Brang Lor”, suatu tempat yang tidak pernah kukenal di peta daerah Sragen dan sekitarnya. Memang dulunya, kakekku adalah orang Jogjakarta, karena perang kemerdekaan melawan penjajah beliau mengungsi bersama keluarga dan saudara-saudaranya ke suatu daerah yang bernama Brang Lor, kemudian kakekku mengembara lagi sampai sekarang di Bulu, Karanganyar Sambungmacan Sragen, sedangkan saudara-saudaranya masih tinggal disana.

Butuh kesabaran yang ekstra memang, untuk menghadapi orang tua yang telah pikun. Disini kitalah sebagai anak dan cucu yang di uji kesabaran dan keikhlasannya dalam menjaga dan merawat orang tua / orang tua bapak ibu kita. Apakah kita mampu bersabar dengan merawat mereka di hari tuanya ataukah malah kita titipkan di panti jompo dengan alasan berbagai kesibukan kita, naudzubillah tsumma na’udzubillah,,, jangan sampai aku melakukan hal itu dan jangan sampai aku diperlakukan seperti itu.

Apa yang saat ini kita lakukan dan bagaimana sikap yang kita lakukan kepada orang tua / kakek dan nenek kita, kira-kira seperti itulah yang akan kita dapatkan di hari tua nanti. Jika saat ini kita tidak bersabar dan acuh terhadap mereka, maka sangat mungkin sekali dihari tua nanti juga akan diperlakukan seperti itu.

Innalillahi Wainnailaihiroji’un,,,,,,, kini sosok tua yang sederhana dan bersahaja itu telah pergi, tepat hari Rabu 12 Desember 2012 pukul 21.00 WIB yang lalu (-+ 3 jam yang lalu) beliau kembali ke rahmatullah. Sejenak teringat kembali kenangan indah bersamamu, ketika seseorang itu telah pergi untuk waktu yang lama, barulah kita tahu akan penting dan indahnya kebersamaan bersamanya.

Beliau mungkin bukan orang yang istimewa dimata anda, tapi melalui beliau-lah (atas izin Allah) saya ada. Teruntuk kakek kami tercinta, Ali Muhammad, maafkan ananda yang belum bisa membuatmu bahagia, mungkin juga belum bisa membuatmu bangga, maafkan cucumu yang tidak bisa mencium keningmu dihari terakhirmu di dunia.

Hanya do’a dari jauhlah yang bisa ananda kirimkan dari perantauan. Semoga Allah Tabaroka wata’ala mengampuni dosa-dosamu, menerima semua amal ibadahmu, menyelamatkanmu dari siksa kubur dan menempatkanmu ditempat yang sebaik-baiknya. Semoga Allah mempertemukan kita dihari yang telah pasti dengan kondisi yang lebih baik. Allahummagfirlahu Warhamhu Wa’afi’i wafu’anhu

Alasan Kenapa Menjadi Seorang Penulis ?

Sejenak harus merenung tentang diri sendiri, mereview ingatan masa lalu. Seberkas ingatan tentang teman-temanku tiba-tiba berkelebat. Menggelitik obsesi lama yang sempat redup. Redup,,,, bukan padam.

Beberapa menit yang lalu saat browsing di internet secara tidak sengaja kutemukan blog temanku saat masih kuliah dulu. Teman beda jurusan tapi satu fakultas. Aku tidak begitu mengenalnya, tapi satu yang kuingat kalau tidak salah dia pernah bertanya tentang “bagaimana membuat blog yang bagus itu?”. Tapi sekarang, kalian tahu apa yang terjadi?, blognya cukup ramai pengunjung, bahkan daripada punyaku mungkin. Blognya selalu di update.

Satu yang membuatku simpati adalah ternyata dia seorang penulis juga. Entah penulis besar atau kecil yang penting dia bisa menulis, menulis tulisan yang bermanfaat tentunya. Apalagi bukan karena tujuan komersil (uang dan ketenaran), ditambah lagi kalau berbobot, bermanfaat dan menginspirasi….. WAH,,, jadi bangga sekaligus iri aku.

Aku sangat menghargai penulis yang seperti itu. Aku juga bisa menulis (gaya bebas tapi), tapi entah kenapa semangat itu jadi redup, alhamdulillah tidak padam. Karena aktifitas menulisku sebagian kualihkan dari digital based menjadi konvensional based. Dari yang semula nulis di komputer kemudian di posting di blog/FB menjadi via kertas dan pulpen (lha kok malah jadi downgrade ? à biarinn,,, !, ada alasan tertentu kawan).

Aku ingin tetap menulis walau apapun yang terjadi ! Kenapa?

1. Dengan tulisan, bisa menjadi salah satu amal jariyah kita?

Amal Jariyah?, ya bisa saja, asal tulisan itu berupa ilmu, bermanfaat (dilihat dari sudut pandang syar’i tentu saja) kemudian di publikasikan dan dibaca orang secara kontinyu / terus menerus, bukankah itu adalah salah satu dari 3 amal jariyah yang diterangkan dalam hadist ? yaitu “ilmu yang bermanfaat” yang pahalanya tiada putus-putus.

2. Bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kalau ada seseorang yang tergugah / termotivasi / tersadar karena tulisan kita, tentu kita juga ikut senang. Alhamdulillah Allah ‘Azza Wajalla telah menjadikan kita sebagai perantara dalam pertolongan Allah kepada hambaNYA. Walaupun itu hanya satu orang.

3. Sebagai rekam jejak sejarah kehidupan kita.

Kawan,,, belum tentu suatu saat nanti kita akan menjadi orang-orang yang bertitle “VVIP” (Very Very Important People), atau “The Number One Man” ataupun juga “The Most Influential People in The World” dalam episode sejarah dunia ini. Jadi tidak akan ada yang sudi menuliskan sejarah biografi hidup kita. Kalau bukan diri kita sendiri yang menulis, siapa lagi?

Apa yang terjadi setelah 1 atau 2 dasawarsa setelah kita meninggal nanti? Kita akan hilang ditelan sejarah !. Bahkan anak, cucu atau cicit kita nanti belum tentu tahu siapa kita?

Bukankah kisah perjuangan Kartini menjadi diketahui dan terkenal sbg Pejuang hak-hak wanita karena jejak sejarah beliau berupa tulisan surat-menyuratnya. Bukan dengan kampanye ataupun piagam penghargaan.

Dengan foto ? mungkin akan tahu seperti apa wajah / fisik kita,

Dengan kumpulan berbagai piala ataupun piagam penghargaan? Mungkin mereka akan tahu betapa berprestasinya kita,

Tapi dengan tulisan, kita bisa menggambarkan bagaimana diri kita, pola pikir kita, karakter kita, kepribadian kita, hobi kita juga perjuangan kita dalam meraih setiap prestasi dalam hidup kita. Orang akan belajar sesuatu yang bermanfaat dari pengalaman kita. Insya Allahu Ta’ala.

Tak perlu menjadi seperti William Shakespeare atau J.K Rowling ataupun Habiburahman El Sirazy yang karya-karyanya bisa dibaca jutaan orang. Mulailah dari awal, cukuplah dan tetaplah menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dengan gayamu sendiri. Insya Allah akan ada yang bisa membaca dan mengambil manfaat darimu.

Nunn… Wal Qolami wamaayasturuun (Nunn… Demi Pena, dan apa yang mereka tulis) Q.S Al Qalam 1

 Di tulis ulang oleh Saibani Kurniajati

tanggal 30 Oktober 2012, 22.50 WIB

from my “blue book” ^^

 

Cara Syaikh Abdurrozaq (hafidhohullah) Menyikapi Perselisihan

Senin 25 Muharram 1431 H atau 11 Januari 2010 yang lalu syaikh Abdurrozaq berziarah ke Indonesia yang selanjutnya akan mengisi dauroh di Masjid Istiqlal Jakarta tanggal 17-nya. Dalam perjalanan itu syaikh ditemani oleh Ustadz Firanda yang merupakan Mahasiswa S2 yang melakukan bimbingan kepada Syaikh Abdurrozaq untuk menyelesaikan Tesis S2-nya, Ustadz Firanda jugalah yang biasa menjadi penerjemah ketika Syaikh Abdurrozaq mengisi kajian rutin di radio rodja tiap minggunya.

Sesaat sebelum berangkat ke Indonesia, ketika diruang tunggu Bandara, Ustadz Firanda menanyakan sesuatu kepada beliau “Perlukah saya ceritakan mengenai dakwah di Indonesia, agar syaikh punya gambaran tentang kondisi dakwah dan perpecahan yang ada disana?”

“Aku rasa tidak perlu” jawab beliau “Karena aku ke Indonesia bukan untuk memihak salah satu dari golongan yang ada. Aku ke Indonesia untuk silaturahmi dan mengunjungi radio rodja. Apakah engkau suka ya Firanda, ada seorang syaikh yang datang ke saudara-saudaramu yang berselisih denganmu lantas mereka menceritakan keburukan-keburukanmu kepada syaikh tersebut? Tentunya engkau tidak suka. Demikian juga, sebaiknya engkau tidak perlu menceritakan kondisi saudara-saudaramu yang berselisih denganmu. Toh mereka tidak berselisih denganmu pada permasalahan aqidah. Engkau dan mereka saling bersaudara diatas aqidah yang satu”

Ustadz Firanda-pun terdiam, beliau sebenarnya sudah menduga jawaban syaikh akan seperti itu, tapi itu ia lakukan karena dorongan dari teman-teman senior agar syaikh juga mengerti akan hal ini, sehingga bisa mengusahakan adanya persatuan.

Beberapa saat kemudian Ustadz Firanda bertanya lagi “Ya Syaikh, sebagian orang ada yang menyatakan bahwa aku adalah kadzab (pendusta). Apakah aku berhak membela diri dan membantah tuduhan tersebut?”

“Wahai Firanda, jangan kau bantah dia, bagaimanapun dia adalah saudaramu seaqidah” jawab beliau. “Bahkan jika ada orang yang bertanya kepadamu tentang dia, maka tunjukkan bahwa engkau tidak suka untuk membantahnya, dan tidak suka membicarakan tentangnya”. Beliau terdiam sejenak lalu melanjutkan nasihatnya “Engkau bersabar dan jika engkau bersabar percayalah suatu saat dia akan menjadi sahabatmu”

Begitulah yang disampaikan syaikh Abdurrozaq, tidak hanya saat itu saja, tapi pernah juga suatu ketika beliau ditanyakan hal sedemikian juga. Ketika itu ada mahasiswa dari suatu Negara yang meminta nasehat kepada beliau tentang kedustaan yang dituduhkan kepadanya. Mahasiswa tersebut mengatakan bahwa dirinya telah dituduh sebagai pendusta, dajjaal, khobiits oleh seseorang, bahkan orang tersebut juga merendahkan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad (ayahanda Syaikh Abdurrozaq), serta menyatakan Syaikh Ibnu Jibrin adalah imam kesesatan dll. Parahnya lagi orang tersebut juga menyebarkan tuduhan tersebut kepada kalangan para da’i di Negara mahasiswa penanya tersebut.

Lalu apa yang dikatakan Syaikh ? “Sekali-kali jangan kau bantah dia, selamanya jangan kau bantah dia !! Apakah engkau ingin engkau yang membela dirimu sendiri? Ataukah engkau ingin Allah yang akan membelamu??” Lalu Syaikh menunjukkan dua buah hadist yang terdapat pada kitab Al Adab Al Mufrod karya Al Imam Al Bukhori

Hadist I

Dari ‘Iyyadl bin Himaar bahwasanya ia bertanya kepada nabi seraya berkata, “wahai Rasululloh, bagaimana pendapatmu bila ada seseorang mencelaku padahal nasabnya lebih rendah dari nasabku?” maka nabi berkata “Dua orang yang saling mencela adalah dua syaithon yang saling mengucapkan perkataan yang batil dan buruk dan saling berdusta”(HR Ahmad 29/37 no 17489 dan Imam AL Bukhori dalam Adabul Mufrod no 427 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Hadist II

“dari Ibnu ‘Abbas berkata”ada dua orang yang saling mencaci disisi nabi, maka salah seorang diantara keduanya mencela yang lainnya, sementara yang kedua diam (tidak membalas cacian tersebut) dan nabi sedang duduk. Kemudian (akhirnya) yang keduapun membantah celaan tersebut maka nabipun berdiri beranjak pergi. Maka dikatakan kepada nabi ”mengapa Engkau beranjak pergi?” nabipun berkata, “para malaikat beranjak pergi maka akupun bangkit untuk beranjak pergi bersama mereka. Sesungguhnya orang yang kedua ini tatkala diam dan tidak membantah celaan orang yang pertama maka malaikat membantah celaan orang yang pertama yang mencacinya, dan tatkala orang yang kedua membantah maka para malaikatpun beranjak pergi” (HR Al Bukhori dalam Adabul Mufrod no 419 dan dinyatakan lemah oleh syaikh Al Albani)

Syaikh berkata “Jika engkau bersabar niscaya Alloh yang akan membelamu, Alloh berfirman “Sesungguhnya Alloh membela orang-orang yang beriman” (QS Al Hajj: 38). Jika engkau bersabar maka Alloh pasti akan mengutus tentaranya untuk membelamu. Perkaranya terserah engkau, apakah engkau akan membela dirimu sendiri, ataukah engkau menyerahkan urusanmu kepada Alloh Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Syaikh melanjutkan perkataannya “Sibukkan dirimu dengan berdakwah, dan jika ada yang bertanya kepadamu tentang permasalahan ini maka janganlah kau terpancing, tapi usahakan untuk mengingatkan si penanya agar sibuk dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat”

Begitulah kurang lebih penjelasan beliau dalam menyikapi permasalahan seperti itu. Ustadz Firanda yang sudah cukup lama mengenal beliau juga pernah menemui sikap syaikh tatkala gencarnya musim Tahdzir – mentahdzir di kota Madinah tahun 2002 yang lalu. Sempat beredar tuduhan bahwa syaikh adalah mubtadi’. Tuduhan tersebut dilontarkan oleh sebagian syaikh yang lain yang juga beraqidah yang lurus. Bahkan diantara tuduhan yang sangat buruk terhadap syaikh bahwa syaikh terpengaruh paham sufiah, dan syaikh sudah mempengaruhi ayah beliau, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad.

AllohuAkbar,,, ini tentulah tuduhan yang amat buruk, mungkinkah Syaikh Abdurrozaq, seorang professor dibidang aqidah, terpengaruh sufi? Bahkan memasukkan paham tersebut ke ulama besar sekaliber Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad? Apakah karena perhatian beliau terhadap akhlaq dan sikap beliau yang tidak suka membicarakan kejelekan dan kesalahan orang lain lantas beliau dikatakan sufi?

Namun subhanalloh, syaikh sama sekali tidak menggubris tuduhan-tuduhan tersebut. Seakan-akan beliau tidak tahu sama sekali, seakan-akan tuduhan tersebut tidak ada sama sekali.

Namun sungguh benar, orang yang paling bahagia adalah orang yang paling ikhlas, yang hanya mencari penilaian dan komentar dari Alloh dan tidak mempedulikan komentar manusia, jika Alloh telah mengetahui bahwasanya ia berada diatas kebenaran. Allahul Musta’an wa ilaihi tuklaan.

===============================================================

Tulisan diatas dikutip dengan sedikit penyesuaian dari buku yang berjudul “Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah Hingga ke Radio Rodja”.

Akhlaq Seorang Ulama

“Akhlaq yang baik” mampu melunakkan benda yang keras yang tidak mampu dilunakkan dengan bantuan benda apapun di dunia ini. Didalam “akhlaq yang baik” mengandung kebijaksanaan, cara berpikir, prinsip hidup, dan sikap sosial terhadap sesama. Bisa juga mengindikasikan kepahaman seseorang terhadap agamanya. Itulah yang membuat “akhlaq yang baik” mampu melunakkan “hati” seseorang yang sangat keras sekalipun, mampu memikat siapapun yang mampu menerapkan “Akhlaq yang baik” itu. Lalu siapa yang mempunyai akhlaq yang paling baik, untuk kita contoh? jawabnya tentu saja Nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wassalam. “Dan engkau sungguh berada diatas akhlaq yang agung” (QS. Al Qolam 4)

Alhamdulillah kemarin2 bisa juga beli buku yang isinya sangat bagus, buku yang mengisahkan sebuah kisah nyata. Pelajaran akhlaq dari seorang ulama yang masih hidup sampai saat tulisan ini dibuat. Didalam buku tersebut tidak hanya dikisahkan tentang teori dan dalil-dalil tentang bagaimana akhlaq seorang muslim saja, namun juga contoh dan praktiknya dilapangan.

Mungkin diantara kita sudah sering mendengar atau membaca tentang bagaimana akhlaq para sahabat atau tabi’in atau tabiut tabi’in atau ulama-ulama salaf dalam menerapkan akhlaq islami. Namun kadang pula dihati kita terbesit ucapan “ah,,, merekakan manusia zaman dulu, zaman ketika Rasululloh masih hidup !” dan lain semisal ucapan seperti itu. Tapi kalau yang melakukan hal-hal tersebut masih hidup sampai saat ini, tentu akan lain ceritanya.

Banyak ulama yang memiliki akhlaq seperti akhlaq para sahabat dan akhlaq generasi salaf, yang tentunya juga tidak jauh dari akhlaq yang dicontohkan oleh Rasululloh Sholallohu’alaihi wassalam (Prinsip : Sahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam menjalankan kebaikan, termasuk didalamnya dengan mencontoh akhlaq Rasululloh). Tapi sampai saat ini saya baru menemukan beberapa kisah saja yang berhubungan dengan akhlaq ulama yang masih hidup, yang mecontohkan akhlaq yang benar-benar islami. Dalam buku ini hanya satu ulama saja.

apa saja pelajaran akhlaq yang bisa diambil hikmahnya dari buku tersebut …? Insya Alloh akan dituliskan dalam beberapa kesempatan.

Kakek Penjual Amplop di ITB

Afwan lama ga sempat nulis,,, karena (sok) sibuknya, sudah beberapa bulan blognya ga update lagi, daripada nganggur lama-lama, ane copasin aja kisah yang (insya Alloh) bisa menyentuh hati kita, bisa diambil hikmah dan ibrohnya. Minimal, sudah selayaknya kita selalu bersujud syukur atas limpahan nikmatNYA, dan pantang menyerah atas ujian hidup dariNYA. Santapan untuk qalbu kita.

Insya Alloh kisah ini adalah kisah nyata, nemu dari catatan seseorang di FaceBook, semoga beliau berkenan ane copas tulisannya di blog ini. Daripada lama-lama, Langsung aja ke TKP ===>

Kisah Kakek Penjual Amplop di ITB. Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah Kakek Penjual Amplop di ITB.

Kakek Penjual Amplop di ITB
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.