Pembagian Guru Berdasar Enak / Nggaknya

Menurut pendapat pribadi lho ya,,,,
Pembagian guru berdasar enak/nggaknya

1. Guru yg paling banyak Pahalanya : Guru Tahsin/Tahfidz –> coz setiap anak yg bisa baca Al Qur’an drnya, Insya Allah pahalanya tetep ngalir sepanjang hidupnya (asal siswanya rajin ngaji), NO 2 Guru Fikih –> coz kalo salah dapat 1 pahala, klo bener dapat 2 pahala :),,,, INSYA ALLAH
2. Guru yg paling enak ngajarnya : Guru Olahraga –> klo lagi males ngajar, tinggal lempar aja bola ketengah lapangan, Insya Allah anak2 lngsung olahraga sendiri
3. Guru paling ditunggu : tentu saja guru TIK, belum bel aja anak2 dah nungguin di depan lab, klo gurunya telat mreka bersedia menjemputnya (entah pengen segera belajar atau biar bisa segera main komputer)
4. Guru plng banyak omong : Guru Bahasa (english, indonesia, arabic dll) –> Maklum, namanya aja bahasa, harus dipraktikkan biar terbiasa (KECUALI guru bahasa isyarat)
5. Guru Fiktif : Guru akuntansi –> belajar ngitung duit bahkan sampai jutaan n milyaran, sayangnya duit yg di hitung ga pernah tahu wujudnya
6. Guru Pendongeng: Guru sejarah –> yg namanya sejarah pasti di sesuaikan dengan pemerintah yg berkuasa saat itu, jadi benar/tidaknya Wallahu’alam (History is writen by victory), Kecuali sejarah Islam yg menganut sistem SANAD yg insya Allah bisa dipertanggungjawabkan dunia-akhirat
7. Guru ga ikhlas : Guru matematika –> sama murid aja suka itung-itungan (ya iyalah,,, namanya aja matematika)

MOHON JANGAN TERSINGGUNG,,,
Don’t take it so seriously, it’s just iseng2.com
walau bagaimanapun juga, Profesi Guru adalah Pekerjaan yang MULIA*
sedikit senyum dihari minggu 🙂

 

Alasan Kenapa Menjadi Seorang Penulis ?

Sejenak harus merenung tentang diri sendiri, mereview ingatan masa lalu. Seberkas ingatan tentang teman-temanku tiba-tiba berkelebat. Menggelitik obsesi lama yang sempat redup. Redup,,,, bukan padam.

Beberapa menit yang lalu saat browsing di internet secara tidak sengaja kutemukan blog temanku saat masih kuliah dulu. Teman beda jurusan tapi satu fakultas. Aku tidak begitu mengenalnya, tapi satu yang kuingat kalau tidak salah dia pernah bertanya tentang “bagaimana membuat blog yang bagus itu?”. Tapi sekarang, kalian tahu apa yang terjadi?, blognya cukup ramai pengunjung, bahkan daripada punyaku mungkin. Blognya selalu di update.

Satu yang membuatku simpati adalah ternyata dia seorang penulis juga. Entah penulis besar atau kecil yang penting dia bisa menulis, menulis tulisan yang bermanfaat tentunya. Apalagi bukan karena tujuan komersil (uang dan ketenaran), ditambah lagi kalau berbobot, bermanfaat dan menginspirasi….. WAH,,, jadi bangga sekaligus iri aku.

Aku sangat menghargai penulis yang seperti itu. Aku juga bisa menulis (gaya bebas tapi), tapi entah kenapa semangat itu jadi redup, alhamdulillah tidak padam. Karena aktifitas menulisku sebagian kualihkan dari digital based menjadi konvensional based. Dari yang semula nulis di komputer kemudian di posting di blog/FB menjadi via kertas dan pulpen (lha kok malah jadi downgrade ? à biarinn,,, !, ada alasan tertentu kawan).

Aku ingin tetap menulis walau apapun yang terjadi ! Kenapa?

1. Dengan tulisan, bisa menjadi salah satu amal jariyah kita?

Amal Jariyah?, ya bisa saja, asal tulisan itu berupa ilmu, bermanfaat (dilihat dari sudut pandang syar’i tentu saja) kemudian di publikasikan dan dibaca orang secara kontinyu / terus menerus, bukankah itu adalah salah satu dari 3 amal jariyah yang diterangkan dalam hadist ? yaitu “ilmu yang bermanfaat” yang pahalanya tiada putus-putus.

2. Bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kalau ada seseorang yang tergugah / termotivasi / tersadar karena tulisan kita, tentu kita juga ikut senang. Alhamdulillah Allah ‘Azza Wajalla telah menjadikan kita sebagai perantara dalam pertolongan Allah kepada hambaNYA. Walaupun itu hanya satu orang.

3. Sebagai rekam jejak sejarah kehidupan kita.

Kawan,,, belum tentu suatu saat nanti kita akan menjadi orang-orang yang bertitle “VVIP” (Very Very Important People), atau “The Number One Man” ataupun juga “The Most Influential People in The World” dalam episode sejarah dunia ini. Jadi tidak akan ada yang sudi menuliskan sejarah biografi hidup kita. Kalau bukan diri kita sendiri yang menulis, siapa lagi?

Apa yang terjadi setelah 1 atau 2 dasawarsa setelah kita meninggal nanti? Kita akan hilang ditelan sejarah !. Bahkan anak, cucu atau cicit kita nanti belum tentu tahu siapa kita?

Bukankah kisah perjuangan Kartini menjadi diketahui dan terkenal sbg Pejuang hak-hak wanita karena jejak sejarah beliau berupa tulisan surat-menyuratnya. Bukan dengan kampanye ataupun piagam penghargaan.

Dengan foto ? mungkin akan tahu seperti apa wajah / fisik kita,

Dengan kumpulan berbagai piala ataupun piagam penghargaan? Mungkin mereka akan tahu betapa berprestasinya kita,

Tapi dengan tulisan, kita bisa menggambarkan bagaimana diri kita, pola pikir kita, karakter kita, kepribadian kita, hobi kita juga perjuangan kita dalam meraih setiap prestasi dalam hidup kita. Orang akan belajar sesuatu yang bermanfaat dari pengalaman kita. Insya Allahu Ta’ala.

Tak perlu menjadi seperti William Shakespeare atau J.K Rowling ataupun Habiburahman El Sirazy yang karya-karyanya bisa dibaca jutaan orang. Mulailah dari awal, cukuplah dan tetaplah menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dengan gayamu sendiri. Insya Allah akan ada yang bisa membaca dan mengambil manfaat darimu.

Nunn… Wal Qolami wamaayasturuun (Nunn… Demi Pena, dan apa yang mereka tulis) Q.S Al Qalam 1

 Di tulis ulang oleh Saibani Kurniajati

tanggal 30 Oktober 2012, 22.50 WIB

from my “blue book” ^^

 

Akhlaq Seorang Ulama

“Akhlaq yang baik” mampu melunakkan benda yang keras yang tidak mampu dilunakkan dengan bantuan benda apapun di dunia ini. Didalam “akhlaq yang baik” mengandung kebijaksanaan, cara berpikir, prinsip hidup, dan sikap sosial terhadap sesama. Bisa juga mengindikasikan kepahaman seseorang terhadap agamanya. Itulah yang membuat “akhlaq yang baik” mampu melunakkan “hati” seseorang yang sangat keras sekalipun, mampu memikat siapapun yang mampu menerapkan “Akhlaq yang baik” itu. Lalu siapa yang mempunyai akhlaq yang paling baik, untuk kita contoh? jawabnya tentu saja Nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wassalam. “Dan engkau sungguh berada diatas akhlaq yang agung” (QS. Al Qolam 4)

Alhamdulillah kemarin2 bisa juga beli buku yang isinya sangat bagus, buku yang mengisahkan sebuah kisah nyata. Pelajaran akhlaq dari seorang ulama yang masih hidup sampai saat tulisan ini dibuat. Didalam buku tersebut tidak hanya dikisahkan tentang teori dan dalil-dalil tentang bagaimana akhlaq seorang muslim saja, namun juga contoh dan praktiknya dilapangan.

Mungkin diantara kita sudah sering mendengar atau membaca tentang bagaimana akhlaq para sahabat atau tabi’in atau tabiut tabi’in atau ulama-ulama salaf dalam menerapkan akhlaq islami. Namun kadang pula dihati kita terbesit ucapan “ah,,, merekakan manusia zaman dulu, zaman ketika Rasululloh masih hidup !” dan lain semisal ucapan seperti itu. Tapi kalau yang melakukan hal-hal tersebut masih hidup sampai saat ini, tentu akan lain ceritanya.

Banyak ulama yang memiliki akhlaq seperti akhlaq para sahabat dan akhlaq generasi salaf, yang tentunya juga tidak jauh dari akhlaq yang dicontohkan oleh Rasululloh Sholallohu’alaihi wassalam (Prinsip : Sahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam menjalankan kebaikan, termasuk didalamnya dengan mencontoh akhlaq Rasululloh). Tapi sampai saat ini saya baru menemukan beberapa kisah saja yang berhubungan dengan akhlaq ulama yang masih hidup, yang mecontohkan akhlaq yang benar-benar islami. Dalam buku ini hanya satu ulama saja.

apa saja pelajaran akhlaq yang bisa diambil hikmahnya dari buku tersebut …? Insya Alloh akan dituliskan dalam beberapa kesempatan.

Kakek Penjual Amplop di ITB

Afwan lama ga sempat nulis,,, karena (sok) sibuknya, sudah beberapa bulan blognya ga update lagi, daripada nganggur lama-lama, ane copasin aja kisah yang (insya Alloh) bisa menyentuh hati kita, bisa diambil hikmah dan ibrohnya. Minimal, sudah selayaknya kita selalu bersujud syukur atas limpahan nikmatNYA, dan pantang menyerah atas ujian hidup dariNYA. Santapan untuk qalbu kita.

Insya Alloh kisah ini adalah kisah nyata, nemu dari catatan seseorang di FaceBook, semoga beliau berkenan ane copas tulisannya di blog ini. Daripada lama-lama, Langsung aja ke TKP ===>

Kisah Kakek Penjual Amplop di ITB. Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah Kakek Penjual Amplop di ITB.

Kakek Penjual Amplop di ITB
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.

Bacaan Qur’an yang bagus :)

Wah,,, ga bisa banyak komen, pokoknya bagi yang suka ngoleksi murotal para masyaikh dari timur tengah. Video ini layak untuk di donlod.

Sudah puluhan kali dengerin tetep ga bosen, qiro’ahnya bagus. Nama imam yang membaca surat Ali Imron ini kalo ga salah adalah Muhammad Luhaidan, di upload oleh id swedendawah pada tahun 2007 yang lalu. video ini telah dilihat sebanyak 2 juta lebih.

Burung-burung Surga (Full of picture)

Mungkin agak berlebihan dengan menyebut mereka sebagai burung-burung surga, mengingat gambaran surga adalah sesuatu yang terindah yang mampu kau bayangkan kemudian dilipatgandakan seperti itu juga (Dari hadist). Tapi tak apalah, namanya juga manusia, sesuatu yang indah di matanya akan digambarkan sebagai surga dunia, alias hanya kiasan saja.

Daripada bertele-tele terlalu panjang langsung kita lihat saja foto dan gambar cantik mereka, yang tak kalah dengan foto model tercantik di dunia. Bedanya yang ini asli dari alam, tanpa polesan buatan tangan manusia.

1. Lesser bird of paradisea (Paradisea minor)

2. Raggiana bird of paradisea (Paradisaea raggiana)
3. Astrapia ribbon tailed (Astrapia mayeri)
4. Blue bird of paradise (Paradisea rudolphi)
5. Rifle bird paradise (Ptiloris paradiseus)
6. Red bird of paradise (Paradisea rubra)
7. Lawes’s parotia (Parotia lawesii)
8. King of saxony bird of paradise (Pteridophora alberti)
9. Wilson’s bird of paradise (Cicinnurus respublica)
10. Princess stephanie’s (Astrapia stephanie)

Nah itulah tadi gambar-gambar cantik mereka yang sempat diabadikan oleh fotografer yang sempat berkunjung ke daerah asal model-model alam ini. Kebanyakan mereka dapat ditemui di wilayah Papua Indonesia, Papua New Guinea, Australia timur sampai kepulauan disekitarnya.

Memang jenis burung-burung surga ini tidak hanya sepuluh diatas, tapi masih ada lagi, berhubung ane cuma dapat gambar 10 itu saja yaa harap maklum. Kalau ada yang mau nambah boleh-boleh saja

Wahhhh Enaknya,,,,, Wisuda sudah ada yang nungguin ^^

Kemaren kamis tanggal 19 Mei, ane menghadiri wisuda kakak ane yang kuliah di jurusan teknik Nuklir UGM. Ada sesuatu yang beda saat upacara wisuda disana. Bukan lantaran wisuda antara diploma dan S1-nya digabung, bukan pula lantaran nama besar UGMnya. Dan rasanya juga agak gimana gitu. Wisudanya sih biasa-biasa saja menurutku, pakai baju toga, topi wisuda, saat dipanggil namanya maju kedepan, tapi di UGM nggak ada acara pindah kucir segala, langsung terima ijazah, salaman, balik ke tempat duduk.

Ane sih nggak lihat secara langsung, tapi via LCD di lantai 1 gedung Graha Sabha Pramana (GSP), auditoriumnya UGM. Coz undangannya cuma buat 2 orang di lantai 2nya, ane sendiri baru berangkat hari kamis paginya, sampe sana jam 9nan. Bosen nunggu ane jalan-jalan, bosen jalan-jalan ane main HP, ngirim sms banyak yang pending, mau internetan ga nyambung-nyambung. Akhirnya jalan-jalan lagi, karena hawanya puanas, ane coba masuk lagi ke gedung GSP lantai 1. Di ruang itu sudah ada 4 LCD untuk menampilkan upacara wisuda secara langsung dari lantai 2nya, dannnnnn ada ACnya, lumayanlah buat ngadem. Ane beranikan saja masuk dari pintu samping coz dari pintu depannya sudah penuh orang.

Ane masuk lalu lihat-lihat kalau ada kursi yang kosong, ternyata ada juga lalu ane duduk di kursi itu. Nahhhh pas lagi duduk itu tanpa sengaja ane lihat ada dua orang anak kecil, akhwat cilik berjilbab besar yang baru berusia kurang dari lima tahun dan seorang lagi usia SD, duduk beberapa kursi di depan ane disamping kiri. Eh,,,, kalau di lihat-lihat lucu juga ya, anak sekecil itu sudah pake jilbab yang besar jadinya kayak kelelep jilbab (:D) selain itu wajahnya jadi tampak lebih manis n nggemesin (bagiku).

Acarapun selesai sekitar pukul 11.00, ane langsung keluar untuk menemui kakak dan bapak ane yang sudah berangkat hari rabunya. Setelah tak cari-cari akhirnya ketemu juga. Dan disana juga ada bapak calon mertua kakakku, katanya pas wisuda itu mau dikenalkan skalian antara bapakku dan bapak calon mertuanya. Ini lho yang bikin beda. Emang sih, kakakku sudah mengkhitbah seorang akhwat referensi dari sahabatnya. Tapi yang kutahu waktu itu hanya bapak calon mertuanya yang hadir.

Dan ternyata pas mau foto wisuda, bapak calon mertua kakakku juga datang bersama keluarganya, lengkap. Dan ternyata lagi, dua akhwat cilik yang ane lihat di lantai 1 gedung GSP tadi adalah calon adik iparnya kakakku, wahhhh nggak nyangka, pantesan (apa ya ?). satu lagi ane lihat ada gadis berjilbab besar berwarna orange sembunyi-sembunyi di belakang ibunya, umurnya baru belasan tahun. “Apa calon mbak iparku ikut datang juga ya?, jangan-jangan yang itu kali ?” ane masih belum yakin. Dan setelah ane telusuri lebih lanjut, ternyata memang benar. Yang berjilbab orange itu ternyata adalah calon mbak ipar ku. Dia tersenyum, tersipu-sipu malu di belakang ibunya. Hanya pas foto wisuda itu ane sempat melihat wajahnya. “Subhanalloh,,,,,, cantik juga ya, hidungnya mancung dan kulitnya putih kayak kakak ane, tinggi semampai lagi”.

Wah…. ternyata. Enak juga ya, wisuda sudah ada yang nungguin. Ane saja yang nemenin ikut deg-degan apalagi kakak ane. Wisuda dihadiri oleh calon bapak-ibu mertua, calon adik ipar dannnnnnn CALON ISTRI tentu saja. Bayangkan saja, saat acara wisuda sudah ditunggu seorang akhwat sholehah, yang akan bersedia hidup menua bersamanya, cantik lagi. 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 Oh INDAHNYA.

Ane sendiri sdikit nyesel dulu pas wisuda cuma ditemeni bapak, bukan apa-apa sih cuma kurang rame aja :). Selain itu kalau sudah ada yang “nunggu”kan jadi Baca lebih lanjut