Anakmu, Anakku, Anak Kita di Masa Depan

Saat itu, di ruang tamu sebuah sekolah SMA terjadi sedikit keributan antara guru, siswa dan orang tua dari siswa tersebut.

“Pokoknya gak mau bu !” Teriak siswa tersebut kepada ibunya.

“Tapi nak, ibu sudah janji mau balikin motor itu ke yang punya” jawab si ibu dengan suara lirih.

Sang guru yang mencoba menengahi pertengkaran antara ibu dan anak itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengelus dada.

Karena sudah sangat menginginkan sepeda motor terpaksa sang ibu rela mencari pinjaman karena apa daya tak sanggup untuk membelikannya, sang suami telah lama tiada. Demi agar anaknya mau berangkat sekolah.

“Nak, ibu dulu sekolah jalan kaki beberapa kilo meter, ibu harap kamu juga mau bersabar sampai ibu punya cukup uang untuk membelikanmu sepeda motor ” kata sang ibu memelas, “Ibu sudah janji sama tetangga mau balikin motornya hari ini”

“Ahhh bodo amat bu,,,, itu tahun berapa bu?! Sekarang tahun 2012 bu !” Balas sang anak dengan nada tinggi. “Pokoknya mau ibu nangis-nangis kek, mau minta sampai nangis darah kek,,, aku gak peduli !”

Akhirnya pertengkaran antara ibu dan anak itu menemui jalan buntu. Sang ibu keluar sambil menggendong anak keduanya yang masih balita.

Beberapa nasehat bijak maupun peringatan keras dari pak guru tampaknya tak membuat siswa tersebut untuk sedikitpun mengalah kepada ibunya. Setelah beberapa kali nasehatnya mentah didepan siswa yang keras kepala tersebut, terlihat matanya berkaca-kaca. Marah, jengkel sekaligus kasihan dengan keluarga siswa tersebut.

Masih di sekolah yang sama , terlihat sedikit kerepotan dipagi hari menjelang KBM di sekolah. Seorang pegawai sekolah terlihat kerepotan membawakan air dan sedikit hidangan kepada tamu sekolah yang berasal dari Dinas setempat saat itu.

“Sini Pak, masak bapak yang anterin sendiri ”

Sahut seorang siswa menawarkan bantuan saat melihat pegawai sekolah itu kerepotan seorang diri melayani tamu. Ia dengan senang hati menawarkan bantuan untuk mengantarkan jamuan kepada tamu agar pegawai tersebut tidak terlalu kerepotan.

Siswa tersebut memang terkenal ramah dan suka menolong diantara rekan-rekannya. Selain itu ia juga merupakan anak yang cerdas dan pernah juara kelas disekolah sebelumnya. Sopan dan santun kepada guru juga jadi kebiasaannya. Di masjidpun ia biasa terlihat di shaf pertama sedang menunggu iqomat sambil membaca al qur’an bersama teman-temannya yang lain.

Itulah sekelumit dinamika perilaku anak yang bisa terjadi dimasyarakat kita. Anak yang taat dan patuh biasa kita sebut dengan “anak berbakti” sedangkan anak yang cenderung pemberontak, berani, tidak sopan dan santun kepada orang tua biasa kita sebut sebagai “anak durhaka”.

Kita sebagai orang tua tentu mengharap anak yang berbakti seperti kisah kedua diatas. Namun apakah usaha anda untuk mewujudkannya? Seakan-akan anak sholeh / sholihah adalah do’a klise yang menjadi standar menyambut kelahiran buah hati bagi kaum muslimin di negeri ini.

“Selamat yaa, Semoga kelak jadi anak yang sholeh / sholihah” begitulah do’a yang otomatis diucapkan saat mendapat kabar kelahiran sang buah hati. Tanpa bermaksud menyalahkan do’a tersebut, namun sadarkah kita para orang tua bahwa usaha kearah sana tentu tidak semudah mengucapkannya.

Untuk itulah mari kita lengkapi semangat kita sebagai orang tua dengan landasan ilmu, ilmu tentang bagaimana cara mendidik anak itu? seperti apakah Rasulullah mendidik anak? Seperti apa standar “anak sholih” itu sebenarnya?

Kemudian dengan ilmu itu bisa jadi landasan kita beramal, agar “anak sholih” yang kita maksud benar-benar sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Assunnah yang shohihah. Bukan sekedar “sholih” dimulut saja.

Terakhir, sudahkah kita mendo’akannya? Setiap hari?, disepertiga malam terakhir? atau mungkin dikala sempat saja? Do’akanlah anak kita sesering mungkin, kita tidak tau bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Berjalan sesuai koridor Allah Ta’ala atau justru sebaliknya. Do’akanlah ia karena do’a orang tua kepada anaknya ibarat do’a Nabi kepada Umatnya.

Sekali-kali pandanglah wajah anakmu ketika sedang tertidur lelap. Wajah yang masih lugu dan polos itu akan segera terpapar gemerlapnya dunia dalam rentang pertumbuhannya. Jika kita tidak siap membekalinya, ia akan menjelma menjadi pemburu dunia yang buas bahkan bisa jadi lebih buas dari serigala yang kelaparan, atau jika kita sebagai orang tua sudah membekalinya dengan “ilmu” Insya Allah, ia akan bijak menempatkan dunia ini sesuai posisi dan porsinya. Tidak melanggar halal dan haram yang telah diatur sang Penciptanya.

 

(Untukku dan istriku yang baru saja menjadi ayah dan ibu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: