Bahtera itu Bernama Rumah Tangga

bahtera

Rumah tangga diibaratkan layaknya bahtera

Nakhodanya suami, sistennya isteri

kapalku bukanlah kapal ferri yang cepat

bukan pula kapal pesiar yang mewah

saat ini hanya kapal sederhana

 

Tapi kapal ini punya satu tujuan yang pasti

Yaitu surga Allah yang kekal abadi

Walaupun tidak dilengkapi peralatan yang canggih

Tapi kapal ini punya buku navigasi yang bisa diandalkan sepanjang masa

Al Qur’an dan Hadist pedomannya

 

Yang namanya laut, mau lihat depan, belakang, kiri dan kanan semuanya laut

Kadangkala pasti bosan melanda, capek dan lelah

Kalau sudah bosan, nakhoda dan asisten harus saling menghibur

saling bercanda memecahkan suasana

 

Yang namanya laut, pasti ada ombak dan angin lautnya

kadang hanya riak-riak kecil dan angin sepoi yang semilir

Tapi bisa juga ombak besar disertai badai yang menyambar-nyambar

kalau semua itu terjadi sang nakhoda dan asisten harus saling berpegangan tangan

Harus saling menguatkan,

Jangan sampai kapal ini karam

 

Suatu saat nanti kapal ini harus mengisi perbekalan

Jika Allah meridhoi, kapal ini akan singgah di suatu pulau nan indah

Pulau dengan ombak yang tenang, laut biru yang jernih

Pantainya bersih dan berpasir putih

Seperti Maldives

Tapi Ingat ! Sang nakhoda dan asisten tidak boleh lupa dengan tujuannya.

Mampir dipulau itu hanya untuk mengisi perbekalan

Setelah selesai bongkar muat perbekalan, angkat jangkar dan lanjutkan perjalanan.

 

Seiring waktu menuju tujuan, akan ada anggota baru dikapal ini.

Mereka akan mengisi ruang yang kosong dengan tawa yang riang

Kadang juga dengan tangis yang sedih

Mereka akan menjadi penyenang hati, penyejuk mata

Tapi itu hanya sementara, suatu saat nanti mereka akan punya kapalnya sendiri.

Yang paling penting adalah jelaskan pada mereka bahwa Surgalah tujuan hidup kita.

Sebaik-baik tempat kembali bagi umat manusia

Meraih keridho’an Rabbnya

 

Jangkar telah diangkat dan layar telah terkembang

Sekarang kapal ini berlabuh menuju tujuan

Menempuh perjalanan yang tak tahu seberapa lama dan seberapa jauh

 

Ya Allah, aku ingin diakhir perjalanan ini engkau berkata kepadaku

“Yaa ayatuhannafsul mutmainnah ‘irji’i ilarobbiki rodhiatammardiyah Fadkhuli fi’ibadi wadkhuli jannati”

 

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, datanglah kepada rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNYA. Masuklah kedalam jamaah hamba-hambaKU, Masuklah kedalam surgaKU”

 

28 Nopember 2013 –> 2 hari sebelum aku menikah, nasihat untuk diriku dan juga untuk saudaraku kaum muslimin menjelang pernikahanmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: