Sepotong kisah dari Jerman

Serem juga denger cerita temen kmaren, cerita tentang kehidupan masyarakat barat yang notabene adalah kaum kufar. Kasihan juga dengan generasi muda kaum muslimin disana, kalau gak kuat iman lho,,, tapi memang godaannya cukup besar, apalagi bagi kaum laki-laki.

Langsung saja, ceritanya begini. Ada seseorang temen ane yang pernah mendapat kesempatan belajar 1 tahun di jerman (negaranya Hitler dulu he…he…). Dia kuliah di IPB sebelum berkesempatan pergi ke Jerman. Untung dia sudah akrab dengan dunia ngaji, jadi ilmu agamanya insya Alloh bisa menjadi benteng bagi dirinya.

Tentu banyak pengalaman selama setahun di negeri panzer, banyak melakukan interaksi dengan orang asing, mengenal kebudayaan asing dll. Salah satunya dia pernah cerita kalau  orang jerman itu (rata2 orang barat, kecuali dalam keadaan darurat mngkin) enggan bahkan bisa marah kalau dia diberikan kesempatan duduk di angkutan umum semisal bus, dengan kata lain kita yg dapat tempat duduk duluan mengalah dan mempersilakan dia duduk di tempat kita. Sangat berkebalikan dengan budaya di Indonesia.

Pernah juga dia bertemu dengan seorang mahasiswa asal palestina yang mendapat kesempatan belajar disana, saat itu mahasiswa asal palestina itu sedang mempresentasikan ttg sesuatu (semacam TA kali?).  didepan warga kampus, termasuk temen ane ini. Dengan semangat berapi-apinya, dia berani mengkritik Negara Israel yang telah menjajah negerinya selama berpuluh2 tahun, sampai-sampai sang penerjemah takut dan ragu-ragu untuk mentranslate ke bahasa Inggris (atau Jerman, ane lupa), tapi sang pemuda itu memaksanya “tidak apa-apa, katakan apa adanya !” seperti itu mngkin kalimatnya.

Akhirnya selesailah presentasinya, temen ane itu datang untuk menyalaminya, karena senang dan salut bertemu dengan saudara jauhnya yang sedang dalam musibah (dijajah) itu. Ia langsung mengucapkan salam “assalamu’alaikum” kepada pemuda palestina itu, setelah ngobrol sebentar, temen ane ini mengajaknya untuk sholat dhuhur. Tapi,,, apa yang dikatakan pemuda palestina itu?

“Tidak,,, saya tidak sholat, silakan duluan”

Temen ane jadi agak heran, kemudian ia bertanya lagi, “tidak sholat saat ini maksudnya ?”

“Tidak,,, saya tidak sholat”

Mendengar itu, temen ane langsung pergi meninggalnya tanpa mengucapkan salam, “Mungkinkah dia bukan muslim ?” batinnya.

Nah,,,, semisal dia memang bukan muslim, ya maklum kalo nggak sholat, tapi kalau dia muslim, ini yang (mungkin) bisa jadi penyebab tidak berkahnya perjuangan Palestina saat ini, semoga oknum seperti ini tidak banyak jumlahnya.

Satu yang lebih berbahaya lagi, ternyata kehidupan bangsa barat (walaupun dalam kasus ini samplenya cuma Jerman), yang termasuk kaum kufar menganut pola pikir liberalis, atheis. Mereka enggan kalau bicara masalah agama, apalagi bicara masalah kematian, mereka akan langsung mengalihkan pembicaraan.

Satu lagi kisah, ketika itu bulan ramadhan, tentu saja sebagai kaum muslimin kita wajib berpuasa, termasuk temen ane itu. Nah saat berpuasa itu, ia diajak makan oleh temannya, tentu saja ia menolak dengan alasan “saya sedang berpuasa” (mereka lebih mahfum kalau berpuasa disebut dengan ramadhan saja)

“oooo,,, kalau begitu minum saja ya?”

“tidak,,,! Kami tidak makan, tidak minum, tidak menyentuh wanita dan bla…bla…bla….” jawabnya, tegas

“Sampai pukul berapa ?”

“sejak sebelum terbit matahari sampai terbenamnya matahari” jawabnya lagi

“Owww,,,, berapa lamakah? Satu hari, dua hari ?”

“Satu bulan !”

Sambil terkejut warga jerman ini memasang wajah kecut “Apa,,, satu bulan !!!, Ohh,,, Tuhan itu sungguh kejam”

Mendengar jawaban itu, temen ane malah tersenyum geli. Maklum mereka tidak tahu keberkahan dan hikmah dibalik berpuasa dan menjalankan ketaatan kepada Tuhan.

Dari hal itu dapat diambil ibroh / pelajaran. Dalam berdakwah (kepada orang yang jelas2 kufar khususnya), jangan dulu bicara masalah hukum, halal dan haram. Nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wassalam saja selama 13 tahun awal dakwah beliau, selalu yang diperkuat adalah masalah Tauhid, tauhid dan tauhid, masalah surga dan neraka. Baru kemudian masalah halal dan haram (syariat). Kalau tidak, dapat dipastikan sebagian besar dari mereka akan berkata “kalau begitu saya tidak akan masuk Islam” ketika mendengar dakwah islam.

Sekian dulu kisah diatas, insya Alloh akan disambung lagi di lain kesempatan. Hal-hal yang sangat penting bagi pemuda kaum muslimin yang akan menuntut ilmu di negeri yang mayoritas bukan umat islam

To be continued (insya Alloh)

nb: diceritakan kembali oleh saibani dengan gaya bahasa sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: