Antara Amerika dan Islam

2 Mei 2011 kemarin menjadi hari yang bersejarah bagi Amerika Serikat dan Indonesia. Kalau di Indonesia tanggal 2 Mei merupakan hari pendidikan nasional yang biasa disingkat dengan hardiknas. Tapi bagi Amerika tanggal itu adalah hari dimana salah satu musuh besarnya berhasil mereka bunuh, dialah Usamah Bin Laden.

Mungkin bagi temen-temen yang tahu sejarahnya akan sedikit heran tentang permusuhan 2 mantan sahabat dekat ini (sahabat dekat ?). untuk itu ada baiknya kita simak lagi sejarah sekitar tahun 1980an akhir ini.

Satu yang mungkin bertolak belakang sebelum peristiwa 11 September, waktu masih terjadi perang dingin (AS Vs Uni Soviet) AS, Arab Saudi dan Pakistan adalah penopang utama yang membantu pejuang Mujahidin Afghan dalam mengusir tentara Soviet di Afghanistan.

Hal itu dapat dibuktikan dengan melihat sejarah bahwa Amerika melalui CIA-nya telah memberi bantuan kepada pejuang Afghanistan melalui ISI Pakistan (Badan Intelijen Pakistan). Salah satu jalan untuk memasuki medan perang Afghanistan bagi Mujahidin internasional adalah melalui Pakistan. Sangat mudah karena pemerintah Pakistan secara tidak langsung turut campur dalam membantu para Mujahidin Internasional.

Bahkan Amerika telah mendonasikan FIM-92 Stinger dan juga sebagian persenjataan bagi pejuang mujahidin. FIM-92 Stinger adalah sebuah sistem misil anti serangan udara yang mampu membuat Uni Soviet kocar-kacir karena banyak kehilangan pesawat tempurnya. AS memberi bantuan secara sembunyi-sembunyi karena tidak ingin terlibat perang terbuka secara langsung dengan Uni Soviet (kawan lama AS juga sebenarnya, sebelum PD II berakhir). Atau dengan kata lain, kontak secara langsung dengan Soviet harus dihindari jika tidak ingin merasakan Tsar Bomba-nya Uni Soviet. (senjata Nuklir terhebat didunia saat itu, saking dahsyatnya senjata ini tidak masuk dalam daftar persenjataan angkatan bersenjata Rusia)

FIM-92 Stinger

Begitu juga dengan Arab Saudi, negara ini juga memberi dukungan penuh pada pejuang Mujahidin dalam melawan tentara Uni Soviet. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh adalah Sheikh Abdullah Azzam, yang juga salah satu guru dari Osama Bin Laden. Sheikh Abdullah Azzam adalah tokoh utama yang memobilisasi dukungan bangsa Arab untuk para pejuang Mujahidin Afghanistan yang kemudian disebut dengan “Arab Afghanistan”. Bahkan Presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagan dan bangsa amerika menyebut para Mujahidin luar Afghanistan dengan julukan “Pejuang Kebebasan”, Pejuang dari luar Afghanistan yang direkrut dari Dunia Muslim untuk melaksanakan Jihad melawan Komunis. Salah satu dari “Pejuang Kebebasan” itu adalah Osama Bin Laden, walaupun partisipasinya tidak termasuk dalam program CIA. Amerika Serikat mau membantu Pejuang Mujahidin karena ada kepentingan untuk melemahkan / menghancurkan lawannya, yang lebih dikenal sebagai “perang dingin”, yaitu antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet.

Itulah gambaran masa lalu, yaitu sebelum Uni Soviet runtuh ditahun 1991. Setelah Uni Soviet runtuh dan berubah menjadi Rusia, maka pandangan politik AS-pun berubah, begitu juga dengan Al Qaeda bentukan Osama Bin Laden, salah satu organisasi yang menampung veteran perang Mujahidin Vs Uni Soviet. Antara Al Qaeda dan Amerika Serikat mulai tidak akur, puncaknya adalah peristiwa 11 September 2001.

Entah apa hal pertama yang memicu ketidak akuran kedua mantan sahabat lama itu. Ada indikasi hal itu terjadi karena AS memasuki wilayah Arab Saudi untuk mempertahankan wilayah tersebut dari ancaman invasi Irak yang telah mencaplok Kuwait sebelumnya (dengan restu Pemerintah Saudi tentunya). Tapi menurutku tidak sesepele itu, kalau pemerintah Saudi yang mengundang dan mengijinkan tentara AS masuk wilayahnya, kenapa Osama memerangi AS, bukannya Arab Saudi?, lagi pula perang karena alasan seperti itu terlalu konyol bagiku.

Tapi menurutku alasan yang lebih penting dari itu adalah politik Amerika Serikat terhadap dunia Islam saat itu (sampai saat ini). Dimana AS secara terang-terangan mendukung pendudukan Israel atas Palestina dan berbagai masalah lain yang dianggap merugikan dunia Islam secara umum (Invasi ke Afghanistan, Irak, dll).

Dukungan bangsa arab terhadap AS saat ini (menurutku) tidak merepresentasikan dukungan umat Islam secara global di dunia. Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Pakistan sampai Indonesia yang kelihatannya adem ayem dengan amerika saat ini bukan karena mereka menerima politik AS di dunia Islam secara utuh, melainkan karena Amerika Serikat mendukung dan merangkul pemimpin-pemimpin dunia arab (yang memang sebagian besar muslim) dengan berbagai modelnya, misalnya kerjasama ekonomi, politik. Terutama dalam bidang perminyakan.

Kita tahu sendiri bahwa Amerika Serikat adalah konsumen minyak terbesar di dunia, dan yang paling penting, mereka punya uang banyak untuk membeli. Sedangkan negara-negara arab (mayoritas muslim) adalah pendominasi produsen minyak terbesar di dunia. So….. berani macem-macem dengan “bakul minyak”, sekali embargo hancurlah perekonomian AS. Hal ini dibuktikan berdasar pengalaman saat terjadi perang Yom Kippur antara Mesir Vs Israel. AS yang saat itu mendukung Israel kena embargo minyak juga, alhasil bergoyanglah perekonomian AS dan akhirnya menghasilkan perjanjian damai dengan Anwar Saddat.

Untuk itulah kerja sama dan hubungan baik dengan negara-negara penghasil minyak harus terus dijaga dan dipertahankan, demi mengamankan pasokan minyaknya. Salah satunya ya,,,,,, merangkul pemimpin-pemimpin dunia arab. Memang ini tidak salah, dan memang seharusnya begitu, demi menjaga perdamaian dunia. Tapi yang salah adalah sikap AS sendiri terhadap dunia Islam secara global. Inilah yang memicu segelintir oknum umat islam yang menyatakan perang terhadap Amerika serikat dan sekutu-sekutunya. Walaupun hubungan antara negara-negara arab dan amerika cukup baik tapi akan tetap ada perlawanan dari “oknum umat islam” jika kesewenang-wenangan AS terhadap dunia Islam belum berakhir.

Untung saja AS tidak mengusik negara-negara arab dengan senjata HAM-nya. Coba kalau berani mengusik arab saudi yang menegakkan syariah islam dengan senjata Hak Azazi Manusia. Pasti lain ceritanya. Dan untuk negara-negara yang sudah “terlanjur berani” menentang AS secara terbuka, harus segera di eksekusi sebelum pengaruhnya meluas, contoh : Irak melalui Saddam Husein, Afghanistan dengan pemerintahan Taliban dan yang terakhir adalah Libya, walaupun tidak secara langsung, tapi antara Libya (Moammar Khaddafi) dengan Amerika pernah terlibat konflik sehingga harus diantisipasi sebelum bertambah kuat (mumpung ada kesempatan juga- revolusi timur tengah-).

Dan……. yang belum (sempat) di eksekusi tapi sudah masuk daftar tunggu ada negara-negara yang di labeli dengan nama “Axis of Evil” (poros kejahatan/poros setan) termasuk didalamnya ada Iran dan Korea Utara. Dan untuk kelompok kecil lain di labeli dengan stigma “Teroris” agar tidak mendapat dukungan lebih besar lagi.

Disini penulis tidak memihak kepada Osama ataupun Obama (Amerika Serikat). Tapi penulis mencoba bersikap seobyektif mungkin. Jangan sampai kita menilai sesuatu sebelum tahu yang sebenar-benarnya. Sehingga penilaian yang diambil tidak terkesan “tidak adil” atau berat sebelah.

Sekali lagi, penulis juga tidak setuju dengan adanya tindak terorisme yang dilakukan segelintir oknum atas nama Islam, tapi juga tidak mendukung stigma “teroris” yang di identikkan dengan “jihad” dan Islam.

Jihad tidak sama dengan terorisme dan terorisme bukan bagian dari islam.

Jihad adalah salah satu ibadah tertinggi dalam Islam, jadi jangan alergi dengan jihad. Kalau anda adalah seorang muslim tapi takut dan menghindar bahkan sampai membenci jika mendengar kata “jihad” maka keislaman anda patut dipertanyakan.

Bahkan Amerika Serikat sendiri pernah mendukung aksi jihad, setidaknya ketika senjata yang bernama “Jihad” itu diarahkan ke Uni Soviet.

Pesan penulis kepada pemimpin Amerika (kalau sempat baca😀 ) tolong kaji ulang dan pertimbangkan kembali politik anda terhadap dunia Islam, apa ada yang salah atau apa saja yang perlu dilakukan agar hubungan dunia Islam dengan anda bisa rujuk kembali. Tidak hanya kepentingan sesaat saja (baca: minyak).

Untuk para pejuang Islam dimanapun dan darimanapun anda berasal, mari kita evaluasi perjuangan kita, jihad kita. Mari kita kembalikan makna “Jihad” sesuai yang dilakukan oleh Rasululloh Shalallohu’alaihi wasallam, sahabat dan para pendahulu kita. Jangan sampai kita terjebak dalam pemahaman khawarij yang bahkan baginda nabi sendiri melaknatnya. Lakukan jihad sesuai Al Qur’an dan Al hadist yang shahih.

menjadi seorang muslim fundamentalis tak berarti kita terlibat atau mendukung kegiatan terorisme, dan menjadi seorang mujahid tak berarti kita bebas menculik atau membunuh warga sipil (Aukai Collins, veteran mujahidin).

Dari:

Seorang muslim yang mencoba peduli dengan kondisi Islam di dunia.

Satu Tanggapan

  1. btw, Bro..udah pernah nonton the Arrivals belom?? atau paling gak yang ini deh..🙂

    http://muxlimo.blogspot.com/2011/09/tragedi-wtc-seremoni-melow-alay-dan_14.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: