Yuk …… Belajar Meneladani 4 Imam Besar Kaum Muslimin

Bismillahirohmanirrohim
Tulisan ini dibuat untuk pembelajaran bersama, untuk diambil manfaat dan hikmahnya dan diharapkan akan memperluas wawasan kita dan menambah keilmuan kita dalam memahami agama islam sehingga hakekat kebenaran yang selama ini dipahami dan dilaksanakan adalah benar-benar sesuai dengan yang dipahami oleh generasi terbaik umat ini, dan dalam mengaplikasikan dan mempraktekkan syari’at islam tidak hanya merasa nyaman tapi juga aman tanpa keluar dari koridor yang telah ditentukan olehNya. semoga Alloh memberi kemanfaatan pada tulisan ini.(penulis juga memohon ampun padaNya apabila ada sesuatu yang salah/keliru dalam menerangkan makna hadist/perkataan ulama yg dikutip)

Agar pembahasan tidak terlalu luas maka ane ambil satu contoh yang merupakan salah satu penyebab perbedaan tiap individu dalam memahami dan menerapkan syari’at ini, dimana hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah ikhtilaf (perbedaan) itu sendiri, tapi yang jadi poin pentingnya adalah, Bagaimana sikap yang harus diambil untuk menghadapi ikhtilaf itu?

Untuk itu tidak ada salahnya kita belajar dari beberapa pembesar umat ini, berikut adalah petikan perkataan 4 orang imam besar kaum muslimin dalam sejarah umat islam. 4 imam yang menjadi rujukan kaum muslimin diseluruh dunia saat ini.

1. Imam Abu Hanifah (mahdzab Hanafi)
beliau menyatakan:
a. “jika itu sahih, maka itulah mahdzabku”(1)
b. “tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami selama dia tidak mengetahui darimana kami mengambilnya”(2)
c. dalam riwayat lain “haram atas siapapun yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan pendapatku”
d. “maka sesungguhnya kami adalah manusia, hari ini kami menyatakan suatu pendapat, mungkin besok kami akan rujuk dari pendapat itu”

2. Imam Malik bin Anas (mahdzab Maliki)
beliau pernah mengatakan:
a. “saya hanyalah seorang manusia biasa, bisa salah dan bisa benar. karena itu lihatlah pendapatku, maka semua yang sesuai dengan Alkitab (Al Qur’an) dan Assunnah, ambilah. Dan semua yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Assunnah, tinggalkanlah” (3)
b. “tidak ada satupun selain nabi Sholallohu’alaihiwasalam, melainkan boleh diambil ucapannya dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi Sholallohu’alaihiwasalam”(4)

3. Imam Asy Syafi’I (mahdzab Syafi’i)
beberapa ucapan beliau antara lain:
a. “tidak ada seorangpun melainkan hilang dan tersamar atasnya suatu sunnah Rasululloh Sholallohu’alaihiwasalam, sehingga bagaimanapun yang saya katakan atau ushul yang saya tetapkan tetapi pada masalah itu ada hadits Rosululloh Sholallohu’alaihiwasalam yang menyelisihi apa yang saya katakan maka pendapat yang benar adalah sabda Rosululloh Sholallohu’alaihiwasalam, dan itulah pendapatku juga”(5)
b. “kaum muslimin sepakat bahwa siapa yang telah jelas baginya satu sunnah Rosululloh Sholallohu’alaihiwasalam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena pendapat seseorang”(6)
c. “apabila kamu dapati dalam kitabku (sesuatu)yang menyelisihi sunnah Rasululloh Sholallohu’alaihiwasalam maka berpeganglah dengan sunnah Rosululloh Sholallohu’alaihiwasalam dan tinggalkan apa yang saya ucapkan” dalam riwayat lain “ikutilah sunnah itu dan jangan menoleh kepada pendapat siapapun” (7)
d. “apabila hadits itu shohih, maka itu adalah mahdzabku”(8)

4. Imam Ahmad bin Hanbal (mahdzab Hanbali)
beliau berkata:
a. “janganlah kamu taklid kepadaku , dan jangan pula taklid kepada Malik, Asy Syafi’I, Al Auza’I ataupun Ats Tsauri, ambillah dari sumber mana mereka mengambilnya ”(9)
b. “ittiba’(mengikuti) itu ialah seseorang mengikuti semua yang datang dari Nabi SAW dan para sahabatnya, kemudian setelah para tabi’in dia boleh memilih”(10)
c. “siapa yang menolak satu hadits Rosululloh Sholallohu’alaihiwasalam, berarti dia berada di bibir kehancuran”(11)

itulah tadi beberapa petikan yang kuambil dari buku sifat sholat nabi, karya syaikh Nashiruddin Al Albani dan syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdulloh bin Baaz. Edisi lndonesia (lengkap),cetakan ketiga April 2009, hal 72-83, maktabah Al Ghuroba’, Sukoharjo

itulah gambaran orang-orang besar kaum muslimin, mereka tidak ujub dan sombong dengan tingginya ilmu yang mereka miliki. dengan kelebihan yang mereka punyai, mereka tetap tawadhu kepadaNya. tidak merasa lebih daripada yang lainnya.

asalkan ada dasar sesuatu hal baru tersebut shahih berasal dari Al Kitab maupun Hadits Rasululloh Sholallohu’alaihi wassalam, merekapun bersedia untuk ruju’ demi keridhaan Alloh dan demi kemaslahatan ummat. Walaupun bertentangan dengan pendapat mereka semula (sebelum datang keterangan shahih tersebut).

mereka tidak takut dikatakan “ilmunya dangkal” karena tidak mengetahui semua hadits Rosululloh Sholallohu’alaihiwasalam yang jumlahnya memang ribuan bahkan puluhan ribu itu.

mereka tidak takut kehilangan pengikut hanya karena tidak bisa mempertahankan pendapatnya yang jelas menyelisihi dalil yang lebih shahih.

karena mereka tahu bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin ma’shum, terbebas dari kesalahan

itu adalah salah satu ciri orang yang bijaksana dengan ilmunya. orang yang berilmu belum tentu bijaksana, orang yang bijak sudah tentu harus berilmu juga, walaupun belum tentu ilmu agama. Dan yang terbaik adalah menjadi orang yang berilmu agama lagi bijaksana. Karena tidak hanya orang-orang disekitarnya saja yang merasa nyaman dan tentram, Selain itu Alloh ‘Azza wajalla juga memberkahi kehidupannya, insha Alloh.

Bagaimana dengan kita?

ah… itukan ulama besar, mana mungkin kita bisa menirunya menjadi ulama sekelas itu ,,,?

siapa bilang kita harus jadi ulama! kalau semua jadi ulama, nanti malah ga ada yang di dakwahi. yang harus kita lakukan adalah tidak henti-hentinya mencari ilmu dan bagaimana sikap kita terhadapnya. bukankah hendaknya berilmu dulu baru beramal ?

point penting yang mau ane tekankan adalah sikap mereka terhadap perbedaan pendapat dan bagaimana menyikapinya dengan baik.

lihatlah bagaimana mereka bisa menjadi pembesar ummat ini, lihatlah, dengarkan, pelajari bagaimana tingkah laku mereka, kepribadian mereka dan kebiasaan mereka. insha Alloh kitapun bisa.

ketika kita tidak/belum tahu akan sesuatu, kita wajib cari ilmunya, ketika terjadi perbedaan pendapat dalam hal tesebut mari kita pelajari lebih dalam lagi, cari referensi lain kalau perlu tabayunkan permasalahannya. Dan ketika kita sudah menemui dalil, pendapat atau keterangan yang lebih rajih dan kuat hendaklah kita ruju’ kepadanya, walaupun terkadang itu sulit tapi apa salahnya dicoba, demi meraih keridhoanNya.

Marilah kita saling mendo’akan agar hikmah, berkah dan keridhoanNya bisa kita raih sampai nafas terakhir kita berhembus di akhir hayat nanti.

KARENA KITA TIDAK PERNAH TAHU APAKAH ALLOH AKAN TETAP MERIDHO’I KITA SAAT INI DAN SAMPAI AKHIR HAYAT KITA NANTI

Wallohuwaliyuttaufiq

note:
perbedaan pendapat disini adalah perbedaan dalam hal furu / cabang / fikih saja. Apabila ada perbedaan pendapat (dalil aqli maupun naqli) tentang masalah pokok (baca: aqidah dasar / tauhid) maka tidak mungkin itu terjadi, dan sudah bisa dipastikan salah satu dari pendapat tersebut pasti salah dan yang satu pasti benar.

si penulis sampai saat ini juga masih dalam tahap belajar, masih cethek ilmunya. Jadi marilah kita sama-sama belajar, saling menasehati dan saling mengingatkan. tidak ada kata terlambat untuk belajar dan beramal, dan yang tak kalah penting juga, ingat paragraf terakhir,,,,,, saling mendo’akan yaaaaa (^_^)

(1). Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abidin (Al-Hasyiyah:1/63), risalah beliau Rasmul-Mufti (1/4, dalam Majmu’ Rasail Ibni ‘Abidin), Syaikh Al Fullani (Iqazhul-Himam hal 62) dan lain-lain.
(2). Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdilbarr (Al-Intiqa’ fi Fadlail-Tsalatsatil-Aimmatil-Fuqaha’ hal 145), Ibnul Qayyim (I’lamul-Muwaqqi’in 2/309), Ibnu ‘Abidin (Hasyiyah ‘ala Al-Bahrir Raiq 6/293, Rasmul-Mufti hal 29 dan 32) dan lain-lain
(3). Ibnu ‘Abdillbarr (Al-Jami’ 2/32), dari jalannya, Ibnu Hazm meriwayatkan dalam ushul Al-Ahkam (6/149) demikian juga Al-Fullani (hal 72).
(4). penyandaran kepada Imam Malik sangat masyur dikalangan ulama yang datang belakangan, dishahihkan oleh Ibnu ‘Abdilhadi (Irsyadus Salik 1/227), diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Abdilbarr (Al Jami’ 2/91), Ibnu Hazm (Ushul Al-Ahkam 6/145,179) dai ucapan Al-Hakam bin ‘Utaibah dan Mujahid. dan lain sebagainya
(5). Diriwayatkan Al-Hakim dengan sanad bersambung kepada Asy Syafi’I, sebagaimana dalam Tarikh Dimasyq Ibni Asakir 15/1/3, I’lamul Muwaqqi’in 2/363,364 dan Al-Iqazh hal 100.
(6). Ibnul Qayyim 2/361, Al Fullani hal 68
(7). Al Harawi “Dzammul-kalam” 3/47/1, Al Khatib dalam “Al-Ihtijaj bi Syafi’I 8/2, Ibnu Asakir 15/9/1, An Nawawi “Al Majmu’ 1/63””, Ibnul Qayyim 2/361, Al Fullani hal 100, dan riwayat lain Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 9/107, Ibnu Hibban (Al-Ihsan 3/284) dengan sanad shahih dari beliau seperti itu juga.
(8). An Nawawi (ibid), Asy Sya’rani 1/57, disandarkan kepada Al Hakim dan Al Baihaqi serta Al Fullani (hal 107) dan seterusnya
(9). Al Fullani (113), Ibnul-Qayyim Al-I’lam (2/302)
(10). Abu Daud dalam Masail Imam Ahmad (hal 276, 2727).
(11). Ibnul Jauzi dalam Al-Manaqib hal 149

maaf dalam penulisan footnote ada beberapa yang terpaksa ane ringkas karena terlalu panjang (pengen melihat lebih lengkap, silakan merujuk pada bukunya)

4 Tanggapan

  1. bagus banget akhi postingan na
    d tambah lagi cerita 4imam ituu
    proses mereka mencari ilmu…
    bisa kita tau betapa contoh xg baik pada mereka

  2. Insya Alloh akh,,, kalau sempat
    jazakallohukhoir

  3. assalamualaikum ya akhi,kalau dishare bagaimana?biar nambah semangat belajar.aamiin.

  4. wa’alaikumsalam
    silakan akh, dengan senang hati.
    semoga bermanfaat bagi yg lain
    syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: