The Power Of True Story “Sandiwara Langit” (1)

Walaupun sebenarnya sudah terlalu telat tapi mungkin ga ada salahnya kalau ane ulas lagi tentang buku ini, Dari resensi dan cerita yg kudapat dari teman dan juga kakak memang aku sempat tertarik pada buku ini, tapi baru sekarang kesampaian membacanya, setelah lamaaaaaa sekali kucari e-booknya ga dapet2, ya udah beli buku aslinya aja. Dan jujur setelah membaca buku ini memang benar2  bisa dikatakan “JOS” (kalau temenq biasa bilang “MANTAB  JAYA”) sangat menarik full inspiration,,,,, kenapa? Karena buku ini menyatakan suatu KISAH NYATA seorang ustadz, kisah-kasih sepasang manusia yang merajut indahnya cinta dengan balutan keimanan dan ketakwaan kepadaNya, buku ini menceritakan tentang perjuangan sepasang anak adam yang tulus mencintai istrinya/suaminya karena mencintai Alloh tapi harus bercerai karena (dipaksa) kalah taruhan,,,,(lho kok taruhan???). bercerai dalam keadaan saling mencintai L

Lebih dari itu buku ini juga berkisah tentang bagaimana menjadi seorang pengusaha yang sukses, walaupun tidak disinggung secara langsung tapi tetep bisa juga diambil trik2 berbisnis yang baik dan berkah secara islami. (ceritanya, akhir2 ini an sangat tertarik dengan bidang entrepreneur nih,,,,, J, jadi kebetulan, sekali baca buku, 2 ilmu didapat)

Wanita sholehah memang sangat berharga dan langka sekali, keberadaannya membawa keteduhan dan ketentraman di hati, apalagi setelah membaca secuil kisah yang merupakan TRUE STORY dalam buku yang berjudul “Sandiwara Langit” karya ustadz Abu Umar Basyir ini makin mengerti dan menyadari betapa pentingnya Keimanan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga perlu dimiliki oleh keduanya sebagai pedoman dalam mencintai satu sama lain agar rasa “cinta” itu tidak salah tempat dan salah penerapan.

Daripada bertele-tele, banyak basa-basi mending langsung saja kita simak resensinya :

Ada seorang pemuda shaleh yang bernama Rizqaan, ia baru berumur kurang lebih 18 tahunan. Karena sangat takut akan fitnah melajang ia ingin menikahi seorang muslimah yg kurang lebih juga berusia 17 tahun, ia bernama Halimah, putri seorang pengusaha yg (cukup)kaya. Tentu saja orang tuanya tidak semudah itu memberikan ijin karena rizqaan sendiri belum kerja dan juga belum mapan (ortunya rizqaan juga orang yg kurang mampu) so mertua rizqaan (ortu halimah) memberikan syarat bahwa rizqaan harus bisa hidup mapan (kaya raya) dalam waktu 10 tahun untuk bisa membahagiakan halimah putrinya, atau ia harus menceraikan halimah jika dalam jangka waktu tersebut ia belum bisa hidup mapan (kaya). Dan setelah berkonsultasi dengan ortu dan ustadznya ia-pun menyanggupi syarat tersebut, dan menerima resikonya.

Alhasil merekapun menikah dan dalam akad pernikahannya rizqaan diwajibkan unt mengikrarkan janjinya bahwa jika dalam jangka waktu 10 tahun ia belum bisa mapan, ia akan menceraikan halimah. Dan setelah mereka menikah mereka mulai hidup mandiri, mereka lebih memilih mengontrak rumah sendiri daripada ikut tinggal bersama orangtua rizqaan, karena orang tua halimah sendiri juga tidak mau menyantuni mereka sepeserpun dan melarang mereka mengunjungi rumahnya sebelum rizqaan bisa kaya,,,,,, (sadis)

Biduk rumah tangga merekapun terkayuh, hidup sederhana apa adanya karena rizqaan hanya lulusan SMA sehingga ia tidak begitu punya keahlian yang memadai. Akhirnya ia-pun memilih berjualan roti, ia mengambil roti dari pabrik roti yang ada disekitarnya. Modal awal ia hanya mengambil 75-100 roti yang kadang2 bisa laku semua kadang2 juga masih sisa, bersama dengan istrinya ia hidup sederhana dan harus sangat berhemat. Bahkan suatu hari rizqaan sempat sakit selama 3 hari, dan ia-pun tidak bisa berjualan pada saat itu, jadi selama 3 hari tidak ada pemasukan sama sekali sehingga porsi makan merekapun harus dikurangi dari 3 kali menjadi 2 kali sehari itupun dengan lauk pauk seadanya. Sang istripun harus cerdas dan hemat mengatur keuangan keluarga. Sekuat-kuatnya ia tidak minta yang macam2 atau belanja ini itu, ia lebih memilih untuk menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dengan sang suami, pernah suatu ketika ia dijebak oleh wanita panggilan untuk menciumnya atau akan diteriaki bahwa ia mau diperkosa. Tapi apa yg dilakukan rizqaan? Ia langsung menamparnya dan segera pergi. Dan masih banyak lagi kisah suka duka yang mereka alami dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.

Setelah beberapa tahun usaha rizqaan pun mulai berkembang. Akhirnya ia bisa menjual ratusan roti perharinya semakin lama semakin berkembang juga hingga akhirnya semakin mendekati kehidupan yang mapan. Apalagi anak pertama mereka-pun telah lahir. Yang diberi nama “nabhaan”, semakin lengkaplah kebahagiaan mereka.

Dan akhirnya rizqaan-pun bisa membangun pabriknya sendiri, semakin lama semakin berkembang dan semakin besar saja. Bahkan ia bisa menjual roti-nya sampai jumlah belasan ribu potong perharinya dengan pendapatan bersih sekitar 2-3 jutaan perhari. Semakin jauhlah bayang2 perceraian diantara mereka.

Walaupun begitu, pasangan suami istri ini tidak sombong atau takabur, mereka tetap menjalankan ajaran2 agama dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka masih sering ikut pengajian (malah tambah sering)dan juga sempat ngisi pengajian. Dan Sampai akhirnya rizqaan bisa membeli mobil baru, ia sering mengajak istri dan kedua orangtuanya untuk ikut kajian maupun refresing ke tempat wisata.

Semuanya berjalan hampir sempurna sampai tahun kesepuluh pernikahan mereka. Pada waktu tahun kesepuluh bulan keempat terjadi keanehan pada usaha mereka, omzet mereka turun drastis sampai 40 % secara tiba-tiba, dan anehnya itu hanya melanda roti buatannya dan juga pada para pelanggannya saja tapi tidak pada merk roti yang lain. Hal itu terjadi setelah datangnya roti merk “T”, roti itu dijual secara tidak wajar dengan menurunkan harga secara gila-gilaan. Tapi rizqaan tidak mau bersuudzon pada siapapun, karena kebanyakan dari prasangka adalah dusta.  Hal itu berlangsung selama beberapa bulan dan persaingan bisnis tak sehat ini akhirnya dimenangkan juga oleh rizqaan, dan roti merk “T” menghilang secara tiba-tiba dari pasaran.

Pada tahun kesepuluh bulan kedua belas hari ke duapuluh delapan (2 hari lagi sebelum masa perjanjian antara rizqaan dengan mertuanya tiba ) malapetakapun terjadi. Pabrik roti dan rumah mereka terbakar hebat. Kejadiaan itu sangat tiba-tiba, padahal mereka baru saja pulang dari luar kota dan baru tiba pada pukul 21.00 malam. Terbangun dari tidurnya, Rizqaan dan keluarganya bingung, ia berlari menyelamatkan putranya dikamar sebelah, waktunya sangat sempit, ia dan istrinya juga anaknya bisa menyelamatkan diri tanpa sempat membawa harta benda. Dan apipun melahap rumah mereka.

“Ya Alloh,,,, Ya Alloh,,,,,,,,,, ayah, ibu,,, mereka masih diatas !!!” tanpa pikir panjang rizqaan segera berlari untuk menyelamatkan ayah ibunya yang masih tidur di lantai 2 rumahnya.

“Jangan abuya,,, jangan,,,,,!” sang istri mencoba menahan suaminya yang nekat akan menembus rumah yg telah terbakar itu. Rizqaan ditahan oleh beberapa masyarakat yang ada disekitarnya. Setelah dinasehati oleh seorang bapak-bapak rizqaan-pun pasrah, ia melihat api mulai melahap rumahnya sedikit demi sedikit.

Akhirnya setelah api mulai mereda ada beberapa pemuda yg berani merangsek masuk kedalam rumah yang sebagiannya masih terbakar itu, dan mereka pun berhasil membawa keluar orangtua rizqaan.

Ayah rizqaan meninggal dunia dengan tubuh sebagiannya sudah gosong dan ibunya hanya mengalami luka bakar, cukup parah tapi masih hidup. Rizqaan menjerit pasrah, hati Rizqaan bergemuruh  sedangkan halimahmenangis tersedu-sedu dan iapun pingsan.

Pada hari kedua dirumah sakit, orang tua halimah datang, bukan untuk menjenguk tapi akan menagih janji-nya dahulu. Tanpa peduli melihat situasi dan kondisi ia meminta rizqaan untuk keluar sebentar lalu menagih janji atas kesepakatan 10 tahun yang lalu. Rizqaan mencoba mencari keringanan karena ia merasa saatnya kurang tepat, saat suasana sedang berduka. Ia tidak bermaksud untuk mengingkari janjinya tapi hanya ingin diberi keringanan demi kebaikan halimah juga. Tapi apa yang sudah dikehendaki oleh orang tua halimah tak mau di ganggu gugat,ia memaksa rizqaan untuk segera menceraikan halimah saat itu juga, ditempat itu juga, karena mertuanya menganggap rizqaan sudah kembali “kere” bahkan lebih parah daripada saat dulu ia melamar putrinya.

Rizqaan adalah seorang yang shalih, ia paham agama, ia bukan seorang pengkhianat, ia tahu kalau perceraian bisa otomatis terjadi pada pernikahan bersyarat seperti yg dilakukannya apabila keadaan yg menjadi syarat nikah terpenuhi (rizqaan tidak bisa hidup mapan). Dengan besar hati dan lapang dada ia memanggil istrinya lalu membicarakannya diluar secara baik-baik. Sang istri mulanya juga menolak, ia berteriak histeris, ia menganggap hal itu tidak fair, ia tidak ingin bercerai dengan suaminya. Tapi setelah dinasehati oleh rizqaan akhirnya ia sadar juga bahwa suaminya harus menepati janji nya yang telah di ikrarkan saat akad nikah dulu, dan iapun juga harus rela demi keridhaanNya.

“halimah istriku,,,,,,” ujar rizqaan dengan teramat sedihnya

“ya abuya, kakanda, suamiku,,,,”balas halimah dengan lemah lembutnya. Panggilan mesra ‘abuya’ membuat hati rizqaan bagai di iris-iris

“dihadapan Alloh, atas dasar ketaatan kita kepadaNya. Dengan harapan Alloh akan memperjumpakan kita di surga kelak, dalam sejuta keindahan, yang melebihi segala yang kita rasakan berdua, atas dasar cinta kasih kita yang suci, atas dasar kepedihan hati yang mendalam, yang hanya Alloh yang mengetahuinya, SAYA MENALAQMU ADINDA,,,,,,,,,”

Tak dapat dibendung lagi halimah menangis sesenggukan, ia sedih atas apa yang menimpa nasib mereka berdua, walaupun halimah tabah tapi rizqaan tahu, hati wanita yang lemah lembut pasti serasa dicabik-cabik mendapat cobaan seperti itu. Setelah dihantam ombak yang besar kini ia seperti dihantam badai yang tak kalah besarnya. Tapi walau apapun yang terjadi ia harus ikhlas dan tabah

Setelah itu orangtua halimah langsung mengajaknya pulang kerumah, halimah sempat menolak karena ia ingin merawat ibu (mantan) mertuanya yg sedang dalam keadaan kritis untuk beberapa hari saja. Tapi ayah halimah tak mau ambil peduli, halimah harus ikut mereka pulang, sang ibu sempat mendukung halimah agar memberinya izin tapi ayah halimah malah memukul sang ibu, akhirnya halimah-pun pasrah, dalam mobil yang membawanya pulang kerumah, ia sempat menasehati ayahnya dengan berbagai dalil Al Qur’an dan Al Hadist, tapi hati sang ayah bagaikan besi baja yang sulit di lunakkan, halimahpun pasrah dan menangis sesenggukan dalam perjalanannya kerumah bersama sang anak, nabhaan.

Waktupun terus berjalan, rizqaan mencoba bangkit kembali. Dengan sisa uang tabungan di bank sebesar 45 juta dikurangi 10 juta untuk nafkah (mantan)istrinya, jadi 35 juta, ia kembali memulai bisnisnya dari nol. Dan juga ia sempat mengirimi uang nafkah pada halimah setiap bulannya minimal 1 juta rupiah, sebagai bentuk tanggung jawabnya dan juga karena saat itu halimah hamil lagi. Perlahan tapi pasti bisnis rizqaanpun kembali naik. Ia mulai membangun rumahnya lagi dari awal.

Lain rizqaan lain halimah. Setelah beberapa waktu berlalu iapun tahu kenapa ayahnya dan juga kakak pertamanya (asyraf), yang dulu sejak awal memang tidak menyukai pernikahan halimah dengan rizqaan, sangat antusias agar halimah bisa segera bercerai dengan rizqaan. Sang ayah ingin menikahkan halimah dengan pemuda yang sangat kaya raya putra seorang pejabat tinggi Negara saat itu, namanya budiman, ia juga merupakan teman bisnis ayahnya. Mereka menunggu masa iddah halimah habis lalu akan segera menikahkannya dengan budiman, si pengusaha kaya raya. Tapi ia tidak mempedulikan lamaran budiman sehingga terus didesak oleh keluarganya. Sampai suatu ketika ia sedang memeriksakan kandungan dan juga checkup total dari sebuah rumah sakit ia kembali dengan wajah pucat tapi ia merahasiakannya kepada keluarganya.

Hari kedua setelah itu budiman benar2 membuktikan bahwa ia sungguh2 melamar halimah, ia datang bersama ayahnya yang seorang pejabat tinggi Negara itu. Ia yakin halimah akan menerimanya. Sang ayahpun menekankan agar halimah tidak mempermalukan dirinya dihadapan rekan bisnisnya itu, dan juga karena ayahnya ingin punya besanan seorang pejabat tinggi Negara juga.

Halimahpun tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya ingin bicara dengan budiman dan ayahnya tanpa ditemani sang ayah. Lalu apa yang terjadi ? ternyata budiman dan ayahnya tidak jadi melamar halimah, padahal sebelumnya budiman sangat ingin mempersunting seorang wanita yang kata ‘asyraf’ sangat taat pada suami itu, dan ia-pun sangat yakin lamarannya akan diterima. Tapi diluar dugaan mereka malah membatalkannya, mereka juga membatalkan lamarannya dengan tanpa rasa tersinggung sedikitpun dan bahkan menjamin bahwa hubungan bisnis diantara mereka masih akan tetap berjalan seperti sediakala. Kedua orang tua halimah tak bisa menyangka kenapa hal itu bisa terjadi. Dan akhirnya halimahpun di interogasi oleh ayahnya di dalam kamar. Dan halimahpun menceritakan alasannya dengan sejelas-jelasnya, amarah dan emosi yang meledak2 di hati sang ayahpun langsung padam bagai api disiram air.

tobe continue……………… (part 2)

2 Tanggapan

  1. Afwan.. ijin copas ya.. jazakumullahu khairan

  2. ya,,,silakan dimanfaatkan
    ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: