Ketika Futur Itu Datang

Di SMA inilah pertama kalinya ane mulai merasakan masalah-masalah yang tidak enak untuk dirasakan. Tidak seperti dulu waktu SMP apalagi SD. Memang kadang-kadang dapat masalah yang bikin marah bahkan sampai menangis-nangis tapi itu bisa berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang berarti. Tapi lain dengan saat ane menginjak SMA, masalah yang ada kadang-kadang sangat sulit untuk dipecahkan apalagi untuk dilupakan begitu saja. Sampai –sampai suatu ketika, waktu itu kalau tidak salah adalah hari senin. Hari pertama masuk sekolah dan hari pertama setelah liburan ”default” hari minggu. Saat ane sudah berangkat mengayuh sepeda menuju jalan raya untuk selanjutnya naik bus. Aku berangkat dengan rasa tidak ikhlas, entah mengapa ane merasa sangat malas sekali untuk berangkat ke sekolah. Waktu itu ane berhenti mendadak ada sesuatu yang sangat aneh. Sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan, sesuatu yang kurindukan, sesuatu yang tidak pernah ane rasakan lagi semenjak SD. Suatu moment yang telah lama menghilang dan kini ada didepan mata walaupun hal itu tidaklah sama dengan yang dulu.

Ane berhenti, lalu turun dari sepeda. Kemudian memandang lepas ke tengah-tengah permadani hijau yang luas sekali. Ane memandang ketengah persawahan. Bukan sawahnya yang membuat ane terkesan. Tapi yang itu, yaitu suasana saat itu. Angin sejuk berembus menerpa seluruh tubuhku, terutama diwajahku, rasanya sejuk sekali. Ditambah cuaca saat itu yang sedikit mendung, jalanannyapun sepi. Suasana saat itu benar-benar membuatku teringat akan sesuatu

Yaitu saat-saat dimana aku masih belum bisa merasakan masalah, beban hidup. Saat itu semuanya terlihat begitu mudah, begitu cerah. Pokoknya hampir tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan cara yang sulit, begitu rumit. Tidak ada masalah yang pelik. Masalah hanya mampir sebentar lalu kemudian hilang begitu saja tanpa jejak yang membekas, tanpa meninggalkan rasa dihati ini. Semuanya begitu mudah dijalani. Tapi saat ini, saat semua sudah berbeda, saat dewasa. Semua masalah yang ada terasa begitu sulit, masalah yang aku alami semakin rumit dan pelik, susah dicari jalan keluarnya apalagi cuma ingin dilupakan begitu saja. Fiuhhhh……ternyata inikah yang dinamakan futur ?

Sambil merenung ane mengingat kembali kenangan masa kecil. Mereply kembali memori yang hampir hilang, kenangan yang tak terlupakan. Waktu SD hari yang paling membahagiakan adalah hari sabtu. Hari sabtu adalah hari terpendek dengan mata pelajaran yang paling ane sukai yaitu Olah raga dan IPA. Selain itu hari sabtu merupakan hari terakhir setelah 5 hari bersekolah ria selama 5 jam perharinya. Hari sabtu adalah jatahnya kelas 5 dan 6 SD untuk melakukan mata pelajaran olah raga. Dan olah raga yang paling kami gemari adalah sepak bola di lapangan Mahbang, lapangan yang berjarak kurang lebih satu setengah kilometer dari SDku. SD Karanganyar III.

Sedari rumah aku sudah mengenakan seragam olah raga. Berangkat pukul setengah tujuh dan akhirnya saat sampai sekolah aku dan teman-teman sudah siap dengan bola kulit asli. Kata guru olah ragaku, Bu Sri, bola itu dulu harganya ratusan ribu. Saat bel mulai berbunyi kami segera berangkat. Aku dan teman-teman sekelas berangkat bersama-sama. Melewati jalan samping kuburan desa lalu jalan berbatu diantara persawahan kemudian sampai di jalan utama kelurahan. Kadang-kadang kami beruntung bisa naik mobil pickup yang kebetulan lewat. Sampai di lapangan biasanya kami istirahat sejenak kalau saat musim buah mangga, aku dan teman-teman tanpa pandang bulu menyerbu buah mangga yang tumbuh dihalaman belakang kantor PLN di kelurahanku. Setelah semua datang dan siap kami segera membagi diri menjadi 2 team. Biasanya teman-teman senang apabila dapat satu team dengan Narno, teman sekelas yang paling tua dan paling kekar tubuhnya. Lain halnya dengan ane, siapapun teamku, aku tetap senang-senang saja. Biasanya aku lebih sering dipasang sebagai back pertahanan belakang. Dan musuh yang paling kuat saat itu adalah Narno itu, bukan pintar main bolanya tapi paling suka gaprakan (jawa) dengan lawan mainnya. Tapi apapun itu aku maju saja, benturan kaki sudah biasa bagiku. Bahkan suatu kali pernah kakiku sampai biru, bengkak karena gaprakan dengan teman-teman sepermainan yang terkenal berkaki batu karena saking kerasnya kakinya.

Jangan salah aku juga termasuk salah seorang pemain yang cukup diandalkan dan disegani karena mempunyai tendangan yang cukup keras dan tinggi sehingga ditakuti lawan mainku. Mungkin itulah alasannya ane lebih sering diposisikan sebagai back pertahanan dalam hampir setiap permainan sepakbola. Tendanganku yang sangat keras dan asal (pokoknya bola yang ada di depanku asal kutendang sekeras-kerasnya agar tidak membahayakan gawang teamku) menjadi andalanku. Biasanya orang yang terkena bola yang kutendang harus istirahat sejenak untuk mengumpulkan nyawanya yang mungkin beterbangan karena bertumbukan antara bola yang kutendang dengan kepalanya, kecuali orang yang punya kepala batu. Pernah suatu kali temanku yang bernama Sriyono A (karena ada juga Sriyono B) terkena bola plastik yang kutendang dengan keras hingga dia harus istirahat dan membersihkan wajahnya yang lecet terkena bola plastik tersebut. Kakiku yang panjang dan tendangan yang keras adalah perpaduan yang sempurna sebagai back pertahanan. Setiap penyerang yang mendekati gawang teamku harus berhati-hati dan berpikir berkali-kali untuk tetap melanjutkan penyerangannya, atau kalau tidak mungkin ia harus ditandu keluar lapangan dengan wajah memar ’’’sombong’’’😛.

Karena lapangan yang kami gunakan biasanya tergenang air sampai mata kaki permainan jadi semakin seru, banyak yang jatuh berguling-guling dan belepotan lumpur. Bahkan ada yang dengan sengaja menjatuhkan diri kedalam genangan air yang menggenang hingga basah kuyup air genangan campur lumpur (maklum anak kecil). Kadang-kadang lapangannya juga dimanfaatkan orang sekitar untuk menggembalakan sapinya, jadi pernah juga ada temanku yang terkapar karena diseruduk sapi betina yang besar-besar.

Usai bermain bola kami semua memisahkan diri lagi, pulang sendiri-sendiri sesuai dengan teman dekatnya masing-masing. Dalam perjalanan pulang kami juga mengambil tanaman lidah buaya yang tumbuh dipekarangan orang lain, entah ada pemiliknya atau tidak, tetap kami ambil untuk keramas saat nanti mampir ke sungai dulu sebelum kembali kesekolah. Habis mandi disungai lalu biasanya aku dan teman-temanku mampir kerumahku dulu untuk mandi yang ketiga kalinya pagi itu. Kadang-kadang sambil makan-makan buah mangga yang tadi didapat dalam perjalanan pulang. Setelah semua siap jam setengah sepuluh kami sudah tiba di sekolah untuk mengikuti 30 menit pelajaran IPA yang menyenangkan. Menyenangkan karena aku pasti selalu dapat nilai yang tinggi dalam mapel ini. Jam sepuluh lebih sedikit kami pulang sekolah. Lalu nonton TV dengan tayangan film horor china semacam vampir yang suka loncat-loncat bersama dengan teman-teman dan juga adik dan kakak yang juga sudah pulang, seru karena kami bisa menutup mata bareng-bareng sambil sedikit ketakutan walaupun semuanya nonton di balik kursi tamu.

Haaaaaaaaaahhhhhhhh……………itulah sedikit memori masa laluku. Hari-hari dimana semuanya terasa begitu mudah, tidak ada masalah yang sulit untuk dipecahkan. Tapi sekarang kenapa semuanya terasa begitu sulit. Rasanya sangat malas sekali untuk berangkat kesekolah. Rasanya aku ingin sekali membolos hari itu. ”ah,,,sekali-kali boloskan ga papa ?”, Pikirku. Aku kembali menikmati suasana pagi itu. Mendung, semilir angin sepoi-sepoi, jalannya yang dulu aku lewati bersama-teman-teman SDku. Lapangan Mahbang yang telah menjadi saksi back pertahanan terkuat di SD Karanganyar III, lalu mandi di sungai bareg-bareng, makan mangga bareng-bareng, pelajaran IPA yang menyenangkan, jam 10 pagi pun sudah bisa pulang kerumah.

Aku terhanyut dengan semua itu. Tapi akankah aku harus bolos sekolah. Haruskah aku terus ditempat itu, mengenang masa lalu yang tidak mungkin terulang. Apakah aku hanya ingin terus berada di masa lalu, ingat saat ini seragammu sudah bukan lagi putih merah tapi putih abu-abu. Apapun kenyataannya tapi itulah yang terjadi. Kamu sudah dewasa, sudah seharusnya kamu memikirkan hal-hal yang lebih serius. Merasa putus asa dan juga futur dalam sekolah maupun organisasi itu sudah biasa. Itulah tantangannya. Tidak semua berjalan begitu mulusnya. Itulah yang disebut ujian, ujian apakah kita sudah siap untuk hidup di dunia ini, sudah siapkah antum menghadapi kegagalan, kekecewaan, sudah siapkah antum jatuh terpelanting, berguling-guling dan berdarah-darah. Kalau belum siap berarti sama halnya dengan antum belum siap untuk dewasa.

Mengingat kembali akan hal itu, aku langsung kembali meraih sepedaku lalu kukayuh secepat mungkin agar tidak terlambat ke sekolah. Kemudian kutitipkan sepeda itu dan langsung naik bus jurusan banaran-sragen. Akhirnya sampai juga aku disekolah. Sampai dengan selamat dan alhamdulillah tidak telat. Tapi masih sama dengan perasaanku beberapa menit yang lalu, Ane masih malas dengan yang namanya sekolah, aku hanya datang dengan niat memenuhi kewajiban saja, kewajiban dari orang tua. Dalam keadaan seperti itu ane bisa membenarkan pernyataan tokoh kartun yang berwujud alien, ia bertanya pada manusia ”Mengapa manusia suka menyiksa diri dengan bersekolah ?” dalam pikiran kerdilku aku membenarkan pernyataan bodoh tersebut, maklum aku sedang futur dengan yang namanya sekolah.

Tapi ada satu hal yang ane yakini bahwa hal itu pasti akan segera berakhir. Masalah disekolah itu hanyalah karena kesalahanku sendiri. Tidak ada yang salah dengan sekolah.

Asal kita bisa memposisikan diri dengan tepat dan bisa bertahan sambil menyelesaikan permasalahan itu, maka semuanya pasti segera beres. Ane yakin apapun yang telah di tuliskan olehNya pasti akan membawa pada suatu hikmah tertentu yang akan bermanfaat untuk diri kita yang kadang-kadang kita belum bisa mengetahuinya, walaupun belum tahu tapi itu pasti ada.

Nah tulisan diatas hanyalah untuk sekedar memotivasi diri sendiri yang saat ini sedang mengalami hal yang serupa, tapi sedikit lebih kompleks. Tidak hanya masalah kuliah saja tapi juga ada organisasi bahkan sampai prinsip pergerakan yang sedang gonjang-ganjing. Aku bingung harus bagaimana, bahkan sampai saat ini belum juga bisa terselesaikan. Tapi itu pasti bisa diselesaikan. pasti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: