Sepenggal Kisah Tentang Kakek yang Sederhana

Dulu waktu masih kecil, sejak usia Taman Kanak-kanak hingga SD kelas 1 sampai kelas 6, beliau yang mengantar dan menemaniku pergi ke sekolah. Maklum,,, baru awal-awal sekolah dan mengingat aku dan kakakku masih kecil waktu itu, bapak dan ibu masih kerja sedangkan adikku yg masih balita, beliaulah yang menjaganya, Kakek dan nenek.

SD-ku tepat berada di samping sawah kakek, tepat mengelilingi komplek SD N Karanganyar III di sebelah utara dan baratnya. Jadi ketika aku dan kakak belajar di SD impress itu, kakek asyik menjalankan pekerjaan utamanya sebagai seorang petani. Kadang disaat libur sekolah, kami semua membantu beliau disawah. Kegiatan yg paling kami sukai adalah ‘ndaud yaitu memindahkan benih padi yg baru tumbuh ke areal sawah untuk ditanam secara rapi. Kami senang karena bisa sekalian main air + lumpur :D

Kakek dan nenek juga piawai membuat batu-bata dan berladang yang dilakukan di lahan kosong di tepian sungai yang disebut sebagai “dong Bulak” oleh warga kampung kami, letaknya di perbatasan timur kampung. Lebih dari itu, kakek juga mahir membuat meubel, seperti meja, kursi dan almari. Jadi tak hanya bertani saja, kakekku juga pandai bertukang dan berladang. Seorang pekerja keras.

Semenjak ibuku sakit keras, kakek dan nenek paling sering mampir kerumah, entah mengantar nasi dan lauk pauk sampai menemani tidur dirumah sampai larut malam. Maklum bapak harus bolak balik Sragen Solo menemani ibu yang dirawat dirumah sakit. Kadangkala untuk menghibur kami bertiga (aku, adikku faisal dan kakaku saiful), kakek menyenandungkan syair dalam bahasa jawa krama alus yang artinyapun aku tak tahu sama-sekali, kecuali beberapa potong saja, yahhh lumayanlah sebagai pengantar tidur.

Pun setelah ibu meninggal dunia, kakek tetap sering mampir kerumah, bantu-bantu bersih-bersih rumah, halaman sampai kebun samping rumah. Kadang-kadang juga beliau membawakan kami hasil ladangnya, kadang pisang, jambu, kacang dll.

Sebel,,, kesal, jengkel kadang juga sempat kurasakan pada kakek. Aku jengkel ketika beliau makan dirumah, bukan makannya yang kupermasalahkan, tapi setelah makan itu, beliau asal-asalan mencuci piringnya, tidak pakai sabun cuci, padahal sudah kularang mencuci sendiri. Maklumlah dirumah itu, aku yang diberi tanggung jawab untuk mencuci piring dan peralatan dapur lainnya. Aku kesal ketika beliau memotong pohon jambu depan rumahnya karena di pohon itulah banyak menghasilkan buah yang aku dan teman-temanku biasa bermain dibawahnya. Aku marah kadang-kadang beliau mengganggu keasyikanku bermain dll.

Akhirnya waktu semakin berlalu, tak terasa belasan tahun sudah peristiwa itu terjadi. Aku yang kini semakin dewasa insya Allah semakin paham dan mengerti. Beliau bukanlah orang kaya raya dikampung, beliau bukan juga petani sukses dengan sawah dan ladang berhektar-hektar, beliau bukanlah terkenal sebagai pejabat desa atau tetua kampung, bukan pula veteran perang yang dipanggil saat upacara 17an, walaupun beliau juga pernah ikut membantu perang kemerdekaan kala itu. Tapi dibalik itu semua, ada hikmah yang bisa kupetik dari beliau, kerja keras, kesederhanaan dan kesahajaan itulah yang terpancar dari beliau.

“Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” [al Hajj/22:5]

Kakekku termasuk ia yang dipanjangkan umurnya oleh Allah ‘azza wajalla, kurang lebih umurnya saat ini lebih dari 90 tahun. Dengan umur seperti itu, kakek mulai pikun, kurang lebih sejak 4 – 5 tahun yang lalu. Karena kebiasaannya sejak muda, beliau masih ingin bertani, ya, ditengah usianya yang telah udzur itu, beliau masih ingin berkarya, tidak ingin merepotkan anak-anak dan cucunya. Walaupun untuk berangkat kesawah saja beliau sudah lupa jalannya. Dengan sepeda ontel tua, caping, cangkul dan sabit beliau tenteng terus menerus mencari sawahnya. Pernah suatu ketika beliau melihat sawah-sawah tetangga sudah memasuki musim panen, kemudian beliau memintaku untuk membantunya memanen padi, hampir aku berangkat kesawah sebelum bapakku memberitahuku bahwa sawah kakek tidak ditanami padi karena sudah tidak ada yang mengurus. Setelah kujelaskan beliau hanya diam sambil menganguk-anggukkan kepalanya, besoknya ia meminta lagi hal yang serupa.

Sering juga beliau datang kerumah untuk pamitan, beliau membawa seluruh pakaian dan beberapa bekal yang dibungkus kain sarungnya, lengkap dengan caping dan sabitnya. Ketika ditanya, mau kemana? Beliau menjawab “mau pulang ke Brang Lor”, suatu tempat yang tidak pernah kukenal di peta daerah Sragen dan sekitarnya. Memang dulunya, kakekku adalah orang Jogjakarta, karena perang kemerdekaan melawan penjajah beliau mengungsi bersama keluarga dan saudara-saudaranya ke suatu daerah yang bernama Brang Lor, kemudian kakekku mengembara lagi sampai sekarang di Bulu, Karanganyar Sambungmacan Sragen, sedangkan saudara-saudaranya masih tinggal disana.

Butuh kesabaran yang ekstra memang, untuk menghadapi orang tua yang telah pikun. Disini kitalah sebagai anak dan cucu yang di uji kesabaran dan keikhlasannya dalam menjaga dan merawat orang tua / orang tua bapak ibu kita. Apakah kita mampu bersabar dengan merawat mereka di hari tuanya ataukah malah kita titipkan di panti jompo dengan alasan berbagai kesibukan kita, naudzubillah tsumma na’udzubillah,,, jangan sampai aku melakukan hal itu dan jangan sampai aku diperlakukan seperti itu.

Apa yang saat ini kita lakukan dan bagaimana sikap yang kita lakukan kepada orang tua / kakek dan nenek kita, kira-kira seperti itulah yang akan kita dapatkan di hari tua nanti. Jika saat ini kita tidak bersabar dan acuh terhadap mereka, maka sangat mungkin sekali dihari tua nanti juga akan diperlakukan seperti itu.

Innalillahi Wainnailaihiroji’un,,,,,,, kini sosok tua yang sederhana dan bersahaja itu telah pergi, tepat hari Rabu 12 Desember 2012 pukul 21.00 WIB yang lalu (-+ 3 jam yang lalu) beliau kembali ke rahmatullah. Sejenak teringat kembali kenangan indah bersamamu, ketika seseorang itu telah pergi untuk waktu yang lama, barulah kita tahu akan penting dan indahnya kebersamaan bersamanya.

Beliau mungkin bukan orang yang istimewa dimata anda, tapi melalui beliau-lah (atas izin Allah) saya ada. Teruntuk kakek kami tercinta, Ali Muhammad, maafkan ananda yang belum bisa membuatmu bahagia, mungkin juga belum bisa membuatmu bangga, maafkan cucumu yang tidak bisa mencium keningmu dihari terakhirmu di dunia.

Hanya do’a dari jauhlah yang bisa ananda kirimkan dari perantauan. Semoga Allah Tabaroka wata’ala mengampuni dosa-dosamu, menerima semua amal ibadahmu, menyelamatkanmu dari siksa kubur dan menempatkanmu ditempat yang sebaik-baiknya. Semoga Allah mempertemukan kita dihari yang telah pasti dengan kondisi yang lebih baik. Allahummagfirlahu Warhamhu Wa’afi’i wafu’anhu

Akhlaq Seorang Ulama

“Akhlaq yang baik” mampu melunakkan benda yang keras yang tidak mampu dilunakkan dengan bantuan benda apapun di dunia ini. Didalam “akhlaq yang baik” mengandung kebijaksanaan, cara berpikir, prinsip hidup, dan sikap sosial terhadap sesama. Bisa juga mengindikasikan kepahaman seseorang terhadap agamanya. Itulah yang membuat “akhlaq yang baik” mampu melunakkan “hati” seseorang yang sangat keras sekalipun, mampu memikat siapapun yang mampu menerapkan “Akhlaq yang baik” itu. Lalu siapa yang mempunyai akhlaq yang paling baik, untuk kita contoh? jawabnya tentu saja Nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wassalam. “Dan engkau sungguh berada diatas akhlaq yang agung” (QS. Al Qolam 4)

Alhamdulillah kemarin2 bisa juga beli buku yang isinya sangat bagus, buku yang mengisahkan sebuah kisah nyata. Pelajaran akhlaq dari seorang ulama yang masih hidup sampai saat tulisan ini dibuat. Didalam buku tersebut tidak hanya dikisahkan tentang teori dan dalil-dalil tentang bagaimana akhlaq seorang muslim saja, namun juga contoh dan praktiknya dilapangan.

Mungkin diantara kita sudah sering mendengar atau membaca tentang bagaimana akhlaq para sahabat atau tabi’in atau tabiut tabi’in atau ulama-ulama salaf dalam menerapkan akhlaq islami. Namun kadang pula dihati kita terbesit ucapan “ah,,, merekakan manusia zaman dulu, zaman ketika Rasululloh masih hidup !” dan lain semisal ucapan seperti itu. Tapi kalau yang melakukan hal-hal tersebut masih hidup sampai saat ini, tentu akan lain ceritanya.

Banyak ulama yang memiliki akhlaq seperti akhlaq para sahabat dan akhlaq generasi salaf, yang tentunya juga tidak jauh dari akhlaq yang dicontohkan oleh Rasululloh Sholallohu’alaihi wassalam (Prinsip : Sahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam menjalankan kebaikan, termasuk didalamnya dengan mencontoh akhlaq Rasululloh). Tapi sampai saat ini saya baru menemukan beberapa kisah saja yang berhubungan dengan akhlaq ulama yang masih hidup, yang mecontohkan akhlaq yang benar-benar islami. Dalam buku ini hanya satu ulama saja.

apa saja pelajaran akhlaq yang bisa diambil hikmahnya dari buku tersebut …? Insya Alloh akan dituliskan dalam beberapa kesempatan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.