Cara Syaikh Abdurrozaq (hafidhohullah) Menyikapi Perselisihan

Senin 25 Muharram 1431 H atau 11 Januari 2010 yang lalu syaikh Abdurrozaq berziarah ke Indonesia yang selanjutnya akan mengisi dauroh di Masjid Istiqlal Jakarta tanggal 17-nya. Dalam perjalanan itu syaikh ditemani oleh Ustadz Firanda yang merupakan Mahasiswa S2 yang melakukan bimbingan kepada Syaikh Abdurrozaq untuk menyelesaikan Tesis S2-nya, Ustadz Firanda jugalah yang biasa menjadi penerjemah ketika Syaikh Abdurrozaq mengisi kajian rutin di radio rodja tiap minggunya.

Sesaat sebelum berangkat ke Indonesia, ketika diruang tunggu Bandara, Ustadz Firanda menanyakan sesuatu kepada beliau “Perlukah saya ceritakan mengenai dakwah di Indonesia, agar syaikh punya gambaran tentang kondisi dakwah dan perpecahan yang ada disana?”

“Aku rasa tidak perlu” jawab beliau “Karena aku ke Indonesia bukan untuk memihak salah satu dari golongan yang ada. Aku ke Indonesia untuk silaturahmi dan mengunjungi radio rodja. Apakah engkau suka ya Firanda, ada seorang syaikh yang datang ke saudara-saudaramu yang berselisih denganmu lantas mereka menceritakan keburukan-keburukanmu kepada syaikh tersebut? Tentunya engkau tidak suka. Demikian juga, sebaiknya engkau tidak perlu menceritakan kondisi saudara-saudaramu yang berselisih denganmu. Toh mereka tidak berselisih denganmu pada permasalahan aqidah. Engkau dan mereka saling bersaudara diatas aqidah yang satu”

Ustadz Firanda-pun terdiam, beliau sebenarnya sudah menduga jawaban syaikh akan seperti itu, tapi itu ia lakukan karena dorongan dari teman-teman senior agar syaikh juga mengerti akan hal ini, sehingga bisa mengusahakan adanya persatuan.

Beberapa saat kemudian Ustadz Firanda bertanya lagi “Ya Syaikh, sebagian orang ada yang menyatakan bahwa aku adalah kadzab (pendusta). Apakah aku berhak membela diri dan membantah tuduhan tersebut?”

“Wahai Firanda, jangan kau bantah dia, bagaimanapun dia adalah saudaramu seaqidah” jawab beliau. “Bahkan jika ada orang yang bertanya kepadamu tentang dia, maka tunjukkan bahwa engkau tidak suka untuk membantahnya, dan tidak suka membicarakan tentangnya”. Beliau terdiam sejenak lalu melanjutkan nasihatnya “Engkau bersabar dan jika engkau bersabar percayalah suatu saat dia akan menjadi sahabatmu”

Begitulah yang disampaikan syaikh Abdurrozaq, tidak hanya saat itu saja, tapi pernah juga suatu ketika beliau ditanyakan hal sedemikian juga. Ketika itu ada mahasiswa dari suatu Negara yang meminta nasehat kepada beliau tentang kedustaan yang dituduhkan kepadanya. Mahasiswa tersebut mengatakan bahwa dirinya telah dituduh sebagai pendusta, dajjaal, khobiits oleh seseorang, bahkan orang tersebut juga merendahkan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad (ayahanda Syaikh Abdurrozaq), serta menyatakan Syaikh Ibnu Jibrin adalah imam kesesatan dll. Parahnya lagi orang tersebut juga menyebarkan tuduhan tersebut kepada kalangan para da’i di Negara mahasiswa penanya tersebut.

Lalu apa yang dikatakan Syaikh ? “Sekali-kali jangan kau bantah dia, selamanya jangan kau bantah dia !! Apakah engkau ingin engkau yang membela dirimu sendiri? Ataukah engkau ingin Allah yang akan membelamu??” Lalu Syaikh menunjukkan dua buah hadist yang terdapat pada kitab Al Adab Al Mufrod karya Al Imam Al Bukhori

Hadist I

Dari ‘Iyyadl bin Himaar bahwasanya ia bertanya kepada nabi seraya berkata, “wahai Rasululloh, bagaimana pendapatmu bila ada seseorang mencelaku padahal nasabnya lebih rendah dari nasabku?” maka nabi berkata “Dua orang yang saling mencela adalah dua syaithon yang saling mengucapkan perkataan yang batil dan buruk dan saling berdusta”(HR Ahmad 29/37 no 17489 dan Imam AL Bukhori dalam Adabul Mufrod no 427 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Hadist II

“dari Ibnu ‘Abbas berkata”ada dua orang yang saling mencaci disisi nabi, maka salah seorang diantara keduanya mencela yang lainnya, sementara yang kedua diam (tidak membalas cacian tersebut) dan nabi sedang duduk. Kemudian (akhirnya) yang keduapun membantah celaan tersebut maka nabipun berdiri beranjak pergi. Maka dikatakan kepada nabi ”mengapa Engkau beranjak pergi?” nabipun berkata, “para malaikat beranjak pergi maka akupun bangkit untuk beranjak pergi bersama mereka. Sesungguhnya orang yang kedua ini tatkala diam dan tidak membantah celaan orang yang pertama maka malaikat membantah celaan orang yang pertama yang mencacinya, dan tatkala orang yang kedua membantah maka para malaikatpun beranjak pergi” (HR Al Bukhori dalam Adabul Mufrod no 419 dan dinyatakan lemah oleh syaikh Al Albani)

Syaikh berkata “Jika engkau bersabar niscaya Alloh yang akan membelamu, Alloh berfirman “Sesungguhnya Alloh membela orang-orang yang beriman” (QS Al Hajj: 38). Jika engkau bersabar maka Alloh pasti akan mengutus tentaranya untuk membelamu. Perkaranya terserah engkau, apakah engkau akan membela dirimu sendiri, ataukah engkau menyerahkan urusanmu kepada Alloh Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Syaikh melanjutkan perkataannya “Sibukkan dirimu dengan berdakwah, dan jika ada yang bertanya kepadamu tentang permasalahan ini maka janganlah kau terpancing, tapi usahakan untuk mengingatkan si penanya agar sibuk dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat”

Begitulah kurang lebih penjelasan beliau dalam menyikapi permasalahan seperti itu. Ustadz Firanda yang sudah cukup lama mengenal beliau juga pernah menemui sikap syaikh tatkala gencarnya musim Tahdzir – mentahdzir di kota Madinah tahun 2002 yang lalu. Sempat beredar tuduhan bahwa syaikh adalah mubtadi’. Tuduhan tersebut dilontarkan oleh sebagian syaikh yang lain yang juga beraqidah yang lurus. Bahkan diantara tuduhan yang sangat buruk terhadap syaikh bahwa syaikh terpengaruh paham sufiah, dan syaikh sudah mempengaruhi ayah beliau, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad.

AllohuAkbar,,, ini tentulah tuduhan yang amat buruk, mungkinkah Syaikh Abdurrozaq, seorang professor dibidang aqidah, terpengaruh sufi? Bahkan memasukkan paham tersebut ke ulama besar sekaliber Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad? Apakah karena perhatian beliau terhadap akhlaq dan sikap beliau yang tidak suka membicarakan kejelekan dan kesalahan orang lain lantas beliau dikatakan sufi?

Namun subhanalloh, syaikh sama sekali tidak menggubris tuduhan-tuduhan tersebut. Seakan-akan beliau tidak tahu sama sekali, seakan-akan tuduhan tersebut tidak ada sama sekali.

Namun sungguh benar, orang yang paling bahagia adalah orang yang paling ikhlas, yang hanya mencari penilaian dan komentar dari Alloh dan tidak mempedulikan komentar manusia, jika Alloh telah mengetahui bahwasanya ia berada diatas kebenaran. Allahul Musta’an wa ilaihi tuklaan.

===============================================================

Tulisan diatas dikutip dengan sedikit penyesuaian dari buku yang berjudul “Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah Hingga ke Radio Rodja”.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: