
Sekali lagi bahas tema tentang ini, biasa,,, masalah “nikah”. Walaupun bagaimanapun juga, masalah “nikah” adalah salah satu tema yang sangat diminati dikalangan para ikhwah, terutama yang masih menyandang gelar jomblowan.
OK,,, langsung aja kita mulai bahas. Tapi sebelumnya, afwan kalo ane tidak menyebut nama ybs (yang bersangkutan) secara langsung karena ane belum minta izin langsung ke mereka jadi dalam tulisan ini ane tulis dengan kiasan saja ya,,, pakai nama fulan wahid, fulan isnain, fulan tsalasa dst
Sebenernya sudah agak sering ane mendengar kajian, diskusi sampe cuma obrolan yang membahas tentang nikah dan kawan-kawannya (baca: khitbah, ta’aruf, nazhor, walimah, sampe kisah2 suka duka yg ada didalamnya), jadi dari beberapa obrolan dan diskusi itu ane tulis sedikit yang semoga bisa diambil manfaatnya, sekali lagi, tulisan ini lebih di ambil dari sudut pandang para ikhwan, karena nara sumbernya semua adalah ikhwan. Tapi penting juga dibaca para akhwat juga orang tua, yang sedikit banyak juga terlibat secara tidak langsung.
Kisah pertama adalah masalah yang berkaitan dengan idealisme, standar minimum calon dsb. Ceritanya begini, temen ane, sebut saja fulan wahid sudah beberapa kali berproses (ta’aruf) tapi sampai sekarang belum juga nikah,,, nah berdasar cerita beliau, ane nangkepnya karena masalah idealisme saja, masalah kriteria calon, yang begini, yang begitu, harus ini, harus itu, entah dari pihak ikhwannya maupun pihak akhwatnya. Biasalah,,,, yang namanya pemuda, konon katanya idealismenya masih tinggi. Ketika ada ikhwan yang melamarnya, si akhwat akan berpikir “siapa aku?, siapa kamu?” apalagi akhwat yang terkenal jameelah, pendidikannya tinggi pula. Makanya pasang standar jangan tinggi-tinggilah, apalagi akhwat, masalahnya yang bertanggung jawab terbesar adalah kami, para ikhwan. Kami yang harus bertanggung jawab terhadap nafkah, baik itu berupa makan, pakaian sampai rumah. Kalo mintanya rumah 3 lantai +mobil BMW yaa musykilah, kecuali anak pengusaha kaya raya mungkin ga masalah.
Tapi,,, juga tidak menutup kemungkinan yang pasang standar tinggi bukan ikhwan maupun akhwatnya, keduanya sih dah OK-OK saja, tapi masalahnya adalah pada orang tua. Sekali lagi bukan hanya orang tua sang akhwatnya saja, tapi juga kadang2 ortu si ikhwan juga demikian, seperti kisah fulan wahid ketika datang mengkhitbah seorang akhwat yang “wah”. Akhwat ini sudah lulus S2, juga pernah kuliah satu tahun di Mediu (Medina University kalo ga salah), saat itupun sang akhwat sedang melamar pekerjaan sebagai dosen arsitek di salah satu universitas di Jeddah, sebagai dosen arsitek khusus mahasiswi kayaknya. Sang akhwat sih OK OK saja, tapi bapaknya yang tersenyum (sinis) meragukannya, dan ketika fulan wahid konsultasi ke bapaknya sendiri, alhasil dengan tegas beliau berkata “Gak usah,,,,! Nanti kamu diremehkan di lingkungan keluarganya ! dan bla bla bla……..” tuuuuuukan, yang kasihan tuh sebenernya sang akhwat, bayangkan saja, saat itu umurnya sudah 29 tahun, umur segitu belum menikah bagi seorang wanita didesaku sudah jadi bahan gunjingan, entah bagaimana dengan wanita/akhwat di sini.
Bagi yang merasa punya abi wa ummi yang sudah menentukan jodoh bagi antum wa antuna, pesan-pesanlah secara baik2 pada mereka agar tidak pasang standar yang terlalu tinggi. Paling pas ya sesuai yang di sabdakan nabi kita Muhammad Shalallohu’alaihi wassalam
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Nah bagi para ikhwan wa akhwat, hadist inilah yang jadi patokan, juga ayat dalam Al Qur’an yang membahas ttg ini, taukan,,,? Surah Annur ayat 26, biar dapat yang baik-baik ya perbaiki diri kita dulu. Dan untuk orang tua, salah satu hadistnya adalah
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)
Nah sebenarnya kalau semua sudah saling mengetahui ilmu adiin yang cukup, insya Alloh masalah seperti ini ga akan jadi terlalu rumit
Yang bikin rumit juga kadang kala justru sang juru kuncinya sendiri alias sang ikhwan. Sang akhwat sudah menerima dengan senang, calon mertua sudah OK dan setuju, pun juga dengan orang tua sendiri, semua sudah pada ngaji dan punya bekal imu agama yang cukup, tapi sekali lagi,,, masalah umum bagi kami (baca:ikhwan) adalah mental, terutama yang berkaitan dengan maisyah. Sangat manusiawi memang, karena kamilah yang akan jadi nakhoda bahtera rumah tangga nantinya, salah jalur bisa-bisa nabrak gunung es, kelelep deh,,,
Sebut saja fulan isnain, dia adalah seorang sarjana lulusan IPB, maisyah sudah di tangan, dia juga pernah mengajar bahasa Arab di sekitar kampusnya. Nah,,, ceritanya, fulan isnain ini sedang ta’aruf dengan seorang akhwat, yang ternyata bapak sang akhwat juga ngaji sama dia, belajar bahasa arab (kalo ga salah itu yang ane denger). Nah sang bapak ini sangat ingin putrinya menikah dengan isnain. Bahkan saking ngototnya, sang keluarga akhwat menyarankan agar isnain segera menikahinya liburan sekolah saat itu juga, padahallllll… sang akhwat baru kelas 3 SMA.
Isnain yang merasa ditantang seperti itu, juga mau ga mau harus bergerak cepat, bagaimana lagi, sang akhwat ini (menurut ane) juga bukan akhwat sembarangan, masuk kategori limited edition-lah. Berdasar cerita isnain, walaupun sang akhwat ini punya keluarga yang bisa dibilang “lumayan” dalam hal duniawi, tapi sang akhwat lebih memilih sikap zuhud. Waktu itu sang akhwat pengen beli HP baru, sebenernya, kalo mau tinggal bilang aja ke ortu, tapi dia tidak. Dia lebih memilih bekerja sendiri, jualan pernak-pernik ke temen2nya untuk bisa beli HP, dari hasil keuntungan jualannya itu, dia belikan HP baru. Wah,,,, emang tipe langka nih, apalagi di zaman seperti sekarang.
Rintangan pertama yang harus dihadapi adalah orang tua isnain sendiri, setelah dilobi dengan beberapa cara, akhirnya dia bisa meyakinkan ortunya itu agar meridhoi langkahnya, menikahi sang akhwat pilihannya. Tapi setelah semua dirasa siap, orang tua sang akhwat berubah pikiran, mereka ingin menunggu sampai putri mereka lulus SMA dulu, maklum-lah kurang beberapa bulan lagi bakalan lulus, kalo nikah sekarang, dia harus berhenti sekolah, nanggung beberapa bulan lagi. Akhirnya isnain-pun menerima, pernikahan mereka diundur beberapa bulan lagi. Sabar,,, toh cuma beberapa bulan.
Qodarulloh, manusia hanya bisa berencana, akhirnya setelah akhwat itu lulus, kebetulan juga isnain telah berhenti dari pekerjaannya. Sadar dengan kondisi itu, isnain-pun terpaksa belum berani untuk menyambut sang kekasih yang telah dinantikannya. Isnain-pun (atas saran orang tuanya sendiri) lebih baik menunda dulu, biar kondisi lumayan mapan dulu. Dan karena dirasa menunggu terlalu lama itulah orang tua sang akhwat akhirnya mengambil langkah lain.
“Terus, sekarang akhwat itu gimana akh ?” Tanyaku padanya dalam suatu kesempatan
“Udah punya anak !”
T_T ,,,, yah apa mau dikata, namanya juga belum jodoh, walau bagaimanapun juga, Alloh telah membuat skenario terindah untuk kita. Ane juga ga mau komentar lebih jauh,,, walaupun dalam masalah rizqi sudah dijabarkan dengan jelas dalam firmanNya,
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur: 32)
Tak perlu risau dengan masalah rizqi, Alloh-lah yang akan mengurusnya, asal kita tetap pantang menyerah untuk bekerja berusaha dan berdo’a demi meraih keridhoanNya.
Mudah memang menulis/berkata demikian, tapi kenyataannya seorang ikhwan tetap akan bergidik dengan yang namanya “biaya hidup”, walaupun cuma sedikit, apalagi tanpa bantuan dari orang tua sama sekali, belum kerja lagi.
Kalo ane yang ada di posisi itu, belum tentu juga ane langsung bisa menyanggupi untuk lanjut, tapi juga belum tentu ane mau melepas begitu saja kesempatan itu (tipe langka je!).
Intinya, mari kita persiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin, ilmu, mental, maisyah, restu, sampai calonnya. Mungkin yang paling penting adalah ilmu, mental dan restu ortu barangkali. Kalo masalah maisyah (pekerjaan) dan calon bisa lebih optional. Maisyah bisa menambah rasa percaya diri (dihadapan calon mertua khususnya) dan calon pun sebenarnya ada banyak insya Alloh, kalau gagal satu masih ada yang lain, tetep ikhtiar saja sambil berdo’a dan berusaha menjadi lebih baik lagi.
Alhamdulillah disini ane punya banyak chanel buat konsultasi, coz cuma ane doank yang belum punya pengalaman meng-khitbah seorang akhwat, apalagi ta’aruf dan seterusnya. Yang lain sudah semua, ada yang sekali ta’aruf langsung berhasil, ada yang belum berhasil, jadi kalo butuh share pengalaman, tinggal tanya doank. Jadi inget beberapa pekan yang lalu ane ditawari,
“akh,,, ada akhwat 17 tahun, siap nikah, asalnya dari Sragen juga, gimana? Antum mau nggak ?”
Ane cuma bisa senyam-senyum doank,,, mau njawab “iya” kayaknya belum bisa, mau jawab “tidak” sebenarnya juga tidak juga, akhirnya ane malah jawab (kalo ga salah ingat) “Belum berani akh” (<- -payah)
Beda ma temen ane yang satu lagi, kejadiannya baru saja kemarin, ada senior ane yang sudah menikah, angkat bicara waktu kita lagi ngobrol2 diruang guru,
“ada akhwat nih, seorang guru TK, baru saja lulus, pakai cadar, katanya sih jamiilah ”
“Wahhhh,,,, boleh nih tadz ! serius !”
Hahahaha …., karakter orang memang berbeda-beda
NB: sebenernya ada satu lagi nih, sebut saja fulan tsalasa, kisahnya lebih menginspirasi dan memotivasi. Insya Alloh kalau ada kesempatan lagi nanti ana tulis,,,, pokoknya full inspiration and motivation deh pokoknya